Pengabdian Dosen INSTIKA kepada Masyarakat Seri 3

INSTIKA Jumat, 13 Maret 2015 03:14 WIB
642x ditampilkan Laporan Khusus Penelitian

Dua Indikator Pemilu Sukses Menurut NU Cabang Sumenep

Sumenep. Mayoritas masyarakat Indonesia sangat menginginkan suksesnya pelaksanaan pemilu 2014 ini. Kesuksesan pemilu tidak saja menjadi pintu masuk restrukturisasi sejumlah pemimpin di negeri ini sesuai level masing-masing. Namun apa ukuran yang bisa kita pakai untuk menilai apakah sukses atau gagal? Bagi para penyelenggara barangkali kesuksesan pemilu dinilai dari lancar-suksesnya proses pelaksanaan pemilu, sementara kualitas wakil yang terpilih tidak menjadi ukuran kesuksesan.

Pandangan berbeda dan menarik mengenai ukuran kesuksesan pemilu datang dari Ketua Tanfidziyah PC NU Sumenep, KH. A. Pandji Taufiq. Dalam sambutannya, Kiai Pandji menyatakan bahwa kesuksesan pemilu diukur dari dua indikator utama, yaitu: baik dan sesuai hukum dalam prosesnya serta berkualitas hasilnya. “Bagi NU, pemilu yang sukses adalah pemilu yang dari prosesnya tidak terciderai oleh pelanggaran serta out putnya bisa menghasilkan pemimpin yang baik, amanah, dan menyejahterakan”. Pandangan ini beliau sampaikan dalam “Dialog Interaktif dan Deklarasi Pemilu Anti Money Politic” pada Sabtu (5/04/2014) bertempat di Kantor PC NU Sumenep yang diselenggarakan oleh PC ISNU Sumenep.

Memang ada pandangan—lanjut Kiai Pandji—dari sebagian pihak bahwa pemilu sukses hanya bisa diukur dari out put, sedangkan dalam tahapan prosesnya bisa saja tidak terlalu bagus atau terdapat kecurangan-kecurangan (yang dianggap) kecil seperti money politic. Tetapi bagi NU, hasil yang baik ditentukan oleh proses yang dilaluinya.

“Maka bagi NU, indikator dari pemilu yang baik ada dua: proses dan out put. Kedua-duanya. Bukan sekedar prosesnya bebas dari kecurangan, tapi tidak menghasilkan pemimpin yang baik dan amanah; semuanya, baik proses maupun out putnyaSekarang ini prosesnya dicurigai karena adanya money politicout putnya dikhawatirkan”, jelas Kiai Pandji.

Ketua PC NU Sumenep ini berharap agar masyarakat—utamanya yang sudah terpelajar, seperti mahasiswa, aktivis, dosen—partai politik, dan tokoh masyarakat tidak ikut terlarut dalam pusaran penyebab kekacauan negeri ini. Money politic merupakan perbuatan tercela, sama sekali tidak terpuji, dan meruntuhkan sendi-sendi kebangsaan.* (ditulis oleh: Ach. Khatib, M. Pd.I).