SEMINGGU 3 MENTERI KE INSTIKA, SEKARANG (KE-3) MENSOS

INSTIKA Ahad, 30 Oktober 2016 16:26 WIB
1572x ditampilkan Headline Berita

Guluk-Guluk - Instika - Sebagaimana telah diberitakan, Selasa (25/10/2016) yang lalu, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI, Imam Nahrawi, berkunjung ke Instika. Dua hari kemudian, Kamis (27/10/2016), berkunjung pula Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) RI, H. Mohamad Nasir. Sekarang, Ahad (30/10/2016) sore berkunjung Menteri Sosial (Mensos) RI, Khofifah Indar Parawansa.

“Tujuan utama kunjungan Ibu Menteri Khofifah beserta rombongan adalah sowan kepada pengasuh yang mulia KH. Ahmad Basyir AS. dan silaturahim dengan keluarga besar Annuqayah,” ungkap KH. Mohammad Hosnan, M.Pd., salah satu pengasuh Annuqayah.

Mensos beserta rombongan disambut oleh keluarga besar Annuqayah yang terdiri dari para Kiai dan Ibu Nyai di kediaman KH. Ahmad Basyir AS.

Setelah beramah-tamah dengan keluarga besar Annuqayah, Mensos dan rombongan menuju Aula Asysyarqawi Instika untuk menemui seribu lebih santri putri yang sudah menunggunya di Aula.

Mensos menyampaikan kepada santri bahwa sebagai santri harus terus berupaya untuk bisa menerima tetesan keberkahan yang mengalir dari para kiai yang menjadi guru kita. “Karena dengan berkah kiai, kita bisa menjadi orang yang sukses dan mulia,” tandasnya.

Mensos menceritakan sejarah hidupnya bahwa dirinya adalah juga seorang santri yang lahir dari keluarga biasa, bukan keturunan orang terhormat. "Karena berkah mematuhi perintah kiai, alhamdulillah sampai saat ini saya menjadi satu-satunya perempaun dari pesantren yang menjabat menteri dua kali dari dua periode yang berbeda,” ujarnya disambut tepuk tangan ratusan santri.

Ketika menjadi Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan di masa Gus Dur, katanya, ia mendapat perintah dari Gus Dur untuk mengamati perkembangan pendidikan di luar negeri. Menurutnya, dari hasil pengamatannya, di luar negeri mengembangkan pendidikan Boarding School atau sekolah berasrama, yang di Indonesia terkenal dengan nama pesantren.

Oleh karena itu, lanjutnya, pesantren harus percaya diri dengan model pendidikannya, karena di luar negeri saat ini mengembangkan model pendidikan ala pesantren.

Mensos mendorong santri untuk rajin belajar. Jangan menyia-nyiakan waktu untuk belajar. Mensos juga menyarankan agar para santri melanjutkan pendidikannya sampai ke jenjang paling tinggi (S-3).

Sementara untuk lembaga pesantren, Ibu Khofifah menyarankan supaya menyiapkan generasi yang memiliki kemampuan mengelola potensi-potensi lokal, seperti pertambangan, perminyakan, pertanian, dan lain sebagainya yang ada di Madura. Sehingga diharapkan 5-10 tahun ke depan potensi-potensi ekonomi lokal tidak dikuasai asing, melainkan dikelola oleh orang lokal sendiri.

“Annuqayah melalui Instika harus bisa mencetak santri yang pandai mengelola potensi lokal ini,” tegasnya. Dari ini Mensos menyambut baik keinginan Instika mengubah statusnya dari Institut ke Universitas. Dengan menjadi universitas, Instika bisa membuka jurusan-jurusan yang konsentrasinya mengembangkan keilmuan yang berkaitan dengan potensi lokal.

Drs. KH. Abbadi Ishomuddin, MA. dalam sambutannya mewakili keluarga besar Annuqayah, meyampaikan terimakasih kepada Ibu Menteri Khofifah yang telah meluangkan waktunya melakukan silaturahim ke Annuqayah. (Masykur Arif/LP2D)