KUNJUNGAN MENTERI AGAMA, PERSYARATAN LENGKAP INSTIKA JADI UNIVERSITAS

INSTIKA Selasa, 15 November 2016 12:07 WIB
2095x ditampilkan Headline Berita

Guluk-Guluk - Instika - Menteri Agama H. Lukman Hakim Saifuddin berkunjung ke Ponpes Annuqayah, Senin (14/11/2016) siang. Menag diterima di kediaman KH. Ahmad Basyir AS, pengasuh paling sepuh di lingkungan Annuqayah. Usai beramah-tamah dengan beberapa pengasuh Annuqayah, Menag menuju Aula Asysyarqawi Instika untuk memberikan orasi ilmiah dalam acara Seminar Keguruan dalam rangka Peringatan Hari Guru.

Menag menyampaikan kebanggaannya bisa hadir ke Ponpes Annuqayah. “Suatu kehormatan tersendiri, saya bisa hadir ke sini,” ungkapnya.

Menteri yang lahir di Jakarta ini mengatakan bahwa dirinya sudah lama mendengar nama Annuqayah, namun baru kali ini punya kesempatan hadir ke Annuqayah, yang merupakan salah satu pesantren tertua di Madura.

Dalam orasinya Menag mengingatkan bawa kita hidup di era global. Kita tidak lagi menjadi warga yang terkotak-kotak dalam garis wilayah yang ketat. Kita sudah menjadi warga dunia. “Jadi, kita mau tinggal di manapun, di Jakarta, di Tokyo, di Australia, di Jerman, di Amerika, kita bisa saling terkoneksi, bisa saling terhubung. Karena kita sudah menjadi warga dunia,” terangnya.

Koneksi cepat antar penduduk di dunia terlaksana dengan ditemukannya dan diciptakannya teknologi digital yang canggih. Melalui teknologi digital, katanya, kita bisa menyerap informasi yang banyak dari seluruh penjuru dunia, bahkan informasi itu datang dengan sendirinya ke ponsel-ponsel yang kita miliki.

“Menurut data Menkominfo, jumlah ponsel yang dimiliki masyarakat Indonesia sebanyak 308 juta. Padahal penduduk Indonesia 252 juta. Lebih banyak ponselnya ketimbang penduduknya. Ini membuktikan bahwa kita sudah hidup di eral digital,” tandasnya.

Sehubungan dengan itu, Menag menyarankan, pertama, sebagai dosen atau guru, kita harus bisa memilah dan memilih informasi yang baik dan bermanfaat untuk kita konsumsi. Anak didik kita juga harus diajari untuk memilah dan memilih informasi yang penting baginya dan membuang informasi yang tidak berguna.

Kedua, selaku dosen dan guru, kita tidak boleh ketinggalan informasi mengenai perkembangan keilmuan. Di era digital, dosen dan guru tidak lagi menjadi satu-satunya pusat informasi keilmuan, sebagaimana yang terjadi zaman dahulu. Siswa atau mahasiswa bisa menyerap informasi keilmuan dari gadget yang dimilikinya.

“Jangan sampai murid lebih aktif menggali informasi terbaru perkembangan keilmuan daripada gurunya,” sarannya.

Menanggapi sambutan Rektor Instika Drs. H. Abbadi Ishomuddin, MA., yang menyampaikan keinginan Instika beralih status dari Institut ke Universitas, Menag mengatakan bahwa Kementerian Agama sangat terbuka untuk membantu Instika beralih status menjadi universitas, dengan catatan segala persyaratan menuju universitas telah dipenuhi.

“Saya mengharap Instika bisa memenuhi persyaratan-persyaratan yang dipersyaratkan untuk menjadi universitas, sehingga perubahan Instika ke Universitas tinggal menunggu waktu,” jelasnya.

Instika juga disarankan untuk melakukan konsultasi dengan beberapa tokoh yang sudah berpengalaman dalam membangun universitas, seperti Prof. Dr. Abd A’la, M.Ag., dan Dr. Masduki.

Sementara, Rektor Instika menyampaikan bahwa persyaratan peralihan status sudah dipersiapkan. Tim yang bertugas mengerjakan syarat-syarat peralihan status sudah dibentuk.

“Mudah-mudahan dalam waktu dekat segala persyaratan yang diperlukan, sebagaimana masukan dari Menteri Agama, sudah rampung sehingga tinggal mengajukan ke Kemenag,” jelasnya. (Masykur Arif/LP2D)

 

Fotografer: Khairul Anam/LP2D