KAJUR IQT RAIH GELAR DOKTOR DENGAN KAJIAN DISERTASI KISAH MARYAM DALAM AL-QUR'AN

INSTIKA Sabtu, 14 Oktober 2017 12:06 WIB
133x ditampilkan Berita

Surabaya - Instika - Maryam adalah nama seorang figur publik perempuan satu-satunya yang disebut secara tersurat dalam al-Qur’an. Tidak hanya itu, namanya juga dijadikan nama salah satu surat dalam al-Qur’an, yaitu ‘Surat Maryam’ yang terdapat di urutan nomor 19 pada susunan nama-nama surat dalam al-Qur’an.

Keistimewaan seorang Maryam sehingga disebut secara tersurat dalam al-Qur’an itulah yang menggerakkan Fathurrosyid, M.Th.I. selaku Dosen Fakultas Ushuluddin Instika yang sekarang menjabat sebagai Kajur Ilmu al-Qur’an dan Tafsir (IQT) Instika untuk menelitinya dalam sebuah disertasi sebagai syarat memperoleh gelar doktor.

Penelitiannya terhadap kisah Maryam dalam al-Qur'an diberi judul “Kisah Maryam dalam al-Qur’an; Pendekatan Pragmatik”. Disertasi ini dipresentasikan pada ujian terbuka promosi doktor Pascasarjana UINSA, Jum’at (13/10/2017) di Kampus Pascasarjana UINSA Gedung Twin Tower B Lantai 3.

Hadir dalam ujian terbuka tersebut, mantan Rektor Instika Drs. H. Ah. Mutam Muchtar, Rektor Instika Drs. H. Abbadi Ishomuddin, M.A., Wakil Rektor I Dr. Ach. Maimun, M.Ag., Wakil Rektor III Drs. H. A. Washil, M.Pd.I., beberapa dosen dan karyawan Instika.

Melalui pendekatan pragmatik, Fathurrosyid menemukan bahwa kisah Maryam dalam al-Qur’an dipenuhi dengan nuansa konteks. Dijelaskannya, bahwa ilmu pragmatik merupakan ilmu linguistik modern yang dapat digunakan untuk mencari makna sebuah teks yang berjalin kelindan dengan konteksnya.

“Yang disebut pragmatik adalah kajian relasi bahasa dengan konteks kebahasaan yang menjadi dasar penentu pemahaman sebuah teks. Artinya, sebuah wacana, sebuah kalimat, sebuah diskursus itu tidak lahir di samping kultural, tetapi berdialektika, bernegosiasi dengan kultur masyarakat setempat,” katanya.

Oleh karena itu, sambungnya, bangunan kisah Maryam dalam al-Qur’an sarat dengan nuansa konteks. Dicontohkannya, banyak kalimat yang disampaikan untuk mengisahkan Maryam menggunakan bentuk gramatika yang sama dan subtansi maknanya juga sama. Ini mengindikasikan nuansa konteks yang sangat kuat.

“Itu sebabnya kenapa pendekatan pragmatik urgen untuk membongkar pemahaman yang ada dalam surat Maryam, terutama kisah tentang Maryam,” jelasnya.

Menurut Fathurrosyid, penelitiannya itu mengungkap tiga hal penting, yaitu (1) unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik kisah Maryam dalam al-Qur’an. (2) Eksplorasi pemahaman kisah Maryam dalam al-Qur’an melalui pendekatan pragmatik. Dan (3) pesan-pesan keagamaan kisah Maryam dalam al-Qur’an perspektif pragmatik.

Keberhasilan mempertahankan logika dan sistematika penulisan disertasi, akhirnya Fathurrosyid mendapat apresiasi dari dewan penguji dengan nilai Pujian (cumlaude) dan berhak mendapat gelar doktor dalam studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir pada Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya.

Dengan demikian, Fathurrosyid merupakan doktor yang ke-6 di lingkungan Instika. (Masykur Arif/LP2D)