INSTIKA RAYAKAN HARI SANTRI DENGAN ISTIGHATSAH BERSAMA

INSTIKA Ahad, 22 Oktober 2017 14:36 WIB
129x ditampilkan Berita

Guluk-guluk - Instika - Dalam rangka memperingati Hari Santri 22 Oktober 2017, Rektor Instika Drs. H. Abbadi Ishomuddin, M.A., melalui pengumuman resmi tertanggal 21 Oktober 2017 mengumumkan kepada segenap civitas akademika Instika untuk bersama-sama menghadiri Istighatsah Instika. Khusus putra bertempat di Mushalla kampus putra, sementara khusus putri di halaman kampus putri.

Pada pelaksanaan Istighastah, Ahad (22/10/2017) hadir ke Istighatsah putra Rektor bersama Wakil Rektor II H. Mohammad Hosnan, M.Pd. Sementara yang hadir ke Istightsah putri Wakil Rektor I Dr. Ach. Maimun, M.Ag., didampingi Sekretaris Jurusan Hukum Ekonomi Syariah (HES) Luthfi Raziq, M.H.I.

Pembacaan istighatsah di putra dipimpin oleh Izzul Muttaqin, M.Th.I. dan di putri dipimpin oleh Luthfi Raziq, M.H.I. Sambutan perayaan Hari Santri di putri disampaikan Wakil Rektor I Dr. Ach. Maimun, M.Ag.

Rektor Drs. H. Abbadi Ishomuddin, M.A., dalam sambutannya menyampaikan bahwa perayaan tersebut dilaksanakan untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia yang salah satunya diperoleh karena peran besar santri. Dalam catatan sejarah yang terlupakan, terungkap seandainya santri tidak bergerak atau berjihad melawan penjajah, sangat sulit rasanya Indonesia meraih kemerdekaannya.

“Yang mengebom Jenderal Mallaby itu adalah santri. Dan orang yang mengibarkan bendera merah putih sehingga tertembak oleh sekutu adalah santri. Jadi peran santri sangat luar biasa,” terangnya.

Selain itu, sambung Rektor, kemerdekaan Indonesia diraih karena maunah (pertolongan) dari Allah Swt. Secara logika, sangat tidak mungkin Indonesia merdeka disebabkan peralatan perang penjajah seribu kali lebih canggih daripada peralatan perang tentara Indonesia.

“Kalau bukan karena pertolongan Allah tentu Indonesia tidak akan merdeka,” jelasnya.

Resolusi Jihad yang dikeluarkan KH. Hasyim Asy’ari sangat mempunyai arti penting bagi kemerdekaan Indonesia. Pertempuran dahsyat dengan penjajah diinspirasi dan digerakkan oleh Resolusi Jihad.

“Jadi, ulama’ di sini memiliki peran besar. Itulah jihadnya K. Hasyim Asy’ari. Dengan demikian, adanya santri membuat Indonesia bisa merdeka,” tandasnya.

Ulama’ juga berperan dalam menyatukan Indonesia yang memiliki ragam budaya, agama, dan suku. Berkat perjuangan ulama’, Indonesia jadi bersatu. “Dalam berjuang, para ulama’ tidak mengharapkan apa-apa selain berjuang semata karena Allah,” katanya.

Pada saat ini kita sudah merdeka. Jihad kita sekarang adalah berjihad melawan kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan. Sehingga diharapkan dari para santri yang berjihad melawan kebodohan dapat lahir pemimpin-pemimpin Indonesia yang tangguh di masa mendatang.

“Mudah-mudahan kita bisa mengikuti ulama’-ulama’ kita, ulama’-ulama’ NU. Semoga kita dapat barokah dari mereka,” pungkasnya. (Masykur Arif/LP2D)