CATATAN KULIAH UMUM BERSAMA DR. KH. TGB. M. ZAINUL MAJDI DI ANNUQAYAH

INSTIKA Kamis, 15 Februari 2018 12:05 WIB
339x ditampilkan Berita

Guluk-guluk – Instika – Al-Qur’an sangat pantas disandingkan dengan istilah ‘Peradaban’. Lantaran, al-Qur’an mampu menyulap bangsa Arab yang terbelakang, tertinggal, dan miskin cita-cita, menjadi sebuah bangsa yang maju, memiliki obsesi tinggi, ahli menjelajahi dunia, mempunyai ilmu pengetahuan cemerlang, dan disegani oleh dunia. Demikian kata Dr. K.H. Muhammad Zainul Majdi MA, yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB).

“Karena memang al-Qur’an ketika hadir, dia tidak hanya bisa masuk di dalam satu peradaban yang sudah ada, tapi bahkan al-Qur’an dalam masa yang sangat panjang dan insya-Allah seterusnya telah berperan untuk membentuk dan membangun peradaban baru,” katanya pada Kuliah Umum dengan tema ‘Al-Qur’an dan Peradaban’ di Aula Asy-Syarqawi Pondok Pesantren Annuqayah, Senin (12/02/2018).

Pertanyaannya, mengapa al-Qur’an mampu mengubah atau bahkan membangun peradaban baru yang lebih unggul? Karena, jawabnya, setidaknya al-Qur’an mengandung dua hal. Pertama, al-Qur’an memandang bahwa dunia ini penuh dengan keteraturan, keharmonisan, dan kedamaian. Satu sama lain saling mendukung. Dengan kata lain, al-Qur’an tidak melihat dunia ini melalui sudut pandang konflik, melainkan dunia yang harmonis.

“Al-Qur’an memandang alam ini dalam konsep keteraturan, seperti yang dijelaskan dalam surah Al-Mulk ayat 3. Selain itu, istilah zaujaini atau istilah azwajan dalam al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang suami-isteri atau laki-perempuan, tetapi bahwa di dalam dunia ini Allah Swt. menciptakan segala sesuatu itu secara berpasang-pasangan dan ada keteraturan, maka logika konflik dan cara berfikir destruktif itu tidak dikenal di dalam al-Qur’an,” terangnya.

Gubernur Nusa Tenggara Barat yang hafal al-Qur’an ini melanjutkan, jika terjadi ketidakseimbangan di dalam hubungan antar-manusia berupa konflik-konflik sosial atau perpecahan di antara umat manusia yang mengarah pada permusuhan dan pertumpahan darah, maka al-Qur’an memerintahkan untuk melakukan proses rekonsiliasi atau ishlah di antara kedua belah pihak.

“Seperti Firman Allah Swt, ‘Wa in tha ifatani minal mukminina iqtatalu fa ashlihu bainahuma,’ maksudnya ishlah itu mengembalikan yang tidak normal menjadi normal, dari konflik menjadi damai. Maka dapat dikatakan bahwa kedamaian, keharmonisan, ketenangan, kenyamanan itu adalah konsep dasar al-Qur’an terhadap dunia dan segala isinya,” tambahnya.

Nabi Muhammad, katanya, ketika pertama kali datang ke Kota Madinah, hal pertama yang dilakukan adalah menyerukan kalimat perdamaian dan anjuran untuk mempererat tali persaudaraan. “Beliau mengelilingi lorong-lorong Kota Madinah seraya mengucapkan ‘Afsyu al-salam, wasilu al-arham, ath’emu at-tha’am, tadhulu al-jannata bi al-salam’, kalimat ini diulang terus-menerus oleh Rasulullah Saw. untuk merubah hawa yang penuh dengan konflik, penuh dengan pertentangan kepentingan, hawa yang tegang, berubah menjadi persaudaraan dan perdamaian. Kenapa? Karena memang konsep al-Qur’an terhadap dunia ini adalah konsep keteraturan kedamaian dan keharmonisan,” jelasnya.

Yang Kedua, menurut TGB, al-Qur’an mempunyai sudut pandang yang demokratis terhadap peradaban. Dalam bahasanya, simbiosis peradaban (Talqihul Haderi). Yakni, al-Qur’an memandang bahwa anak Adam itu dimuliakan oleh Allah. Bentuk kemuliaan tersebut berupa cahaya akal yang kemudian bisa menghasilkan produk-produk peradaban, baik dihasilkan oleh umat Islam sendiri maupun non-Muslim.

Ia menegaskan, tidak ada halangan dalam al-Qur’an untuk mengadopsi peradaban yang dihasilkan oleh non-Muslim, selagi ia dapat memajukan peradaban Islam. Karena, menurutnya, al-Qur’an mempunyai konsep simbiosis peradaban (Talqihul Haderi). Ia mencontohkan, penggalian parit besar yang dilakukan oleh Rasul ketika perang Khandaq berdasarkan nasihat Salman al-Farisi yang diperolehnya dari kebiasaan orang-orang Persia ketika menghadapi musuh.

“Kenapa kita mau simbiosis karena kita sadar di luar itu ada ilmu, di luar itu ada pengalaman, di luar itu ada kearifan, maka ketika Islam datang ke Indonesia para dai-dai kita dan para imam-imam dai yang disebut dengan sayyiduna sunan-sunan, suna Gunung Jati dan sunan semua wali songo yang lain-lain itu, mereka berdakwah di Nusantara yang pertama mereka pikirkan adalah mana nilai-nilai yang hidup di tanah Nusantara ini yang bisa menjadi instrumen dakwah Islam. Jadi titik perangkatnya itu bukan saya punya semua maka saya harus rubah semua, tidak, tapi titik perangkatnyalah adalah apa yang terbaik ada pada Anda, kami akan serap untuk memperkaya khazanah kami talqihul haderi. Itulah yang di dalam al-Qur’an disebut dalam surat al-Hujurat, “Ya ayyuhannas inna khalaqnakum min dzakarin wa untsa wa ja’alnakum syu’uban wa qabaila li ta’arafu inna akramakum ‘indallahi atqakum innallaha alimun khabir,” paparnya.

Melalui dua pendekatan tersebut, menurut cucu pendiri organisasi Nahdlatul Wathan ini, al-Qur’an bisa menghadirkan kekayaan yang luar biasa di dalam perkembangan peradaban Islam. Ia mengharapkan, sekiranya dua perspektif tersebut bisa dihidupkan di dalam cara berislam di Indonesia, maka umat Islam akan mampu menghadirkan kebaikan dan kemashlahatan untuk semua, memperkokoh ikatan-ikatan, tidak mempertentangkan hal-hal yang baik dan mulia, tapi mensinergikan dan mengokohkan satu sama lain.

Kuliah Umum yang diadakan Ponpes Annuqayah itu berlangsung sekitar 36:54 menit. Peserta yang hadir terdiri dari para Masyaikh Annuqayah, dosen dan mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika), para guru dan santri Ponpes Annuqayah, serta para alumni al-Azhar yang tergabung dalam Organisasi Internasional Alumni al-Azhar cabang Indonesia kantor cabang daerah Madura al-Ahram. Tampak hadir juga Bupati Sumenep KH A Busyro Karim.

Kontributor: Saiful Fawait

Editor: Masykur Arif