CATATAN DARI KULIAH UMUM TENTANG SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI BERSAMA PROF. DR. SAYYID MUHAMMAD FADIL AL-JAILANI

INSTIKA Ahad, 25 Februari 2018 18:42 WIB
274x ditampilkan Berita

Guluk-guluk - Instika - Prof Dr Sayyid Muhammad Fadil al-Jailani dari Turki berkunjung ke Pondok Pesantren Annuqayah, Senin (23/2/2018) sore. Pada kesempatan ini, penemu dan penahkik kitab-kitab karya Syekh Abdul Qadir al-Jailani ini mengisi Kuliah Umum bertema Sejarah Hidup Syekh Abdul Qadir al-Jailani pendiri Tarekat Qadiriyah.

“Lebih 50 tahun saya berkeliling dunia untuk mengumpulkan data-data atau menuskrip karya Syekh Abdul Qadir al-Jailani,” katanya dalam bahasa Arab yang diterjemahkan langsung ke bahasa Indonesia oleh K Musthafa Erfan Lc pada saat Kuliah Umum di Aula Asysyarqawi Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika).

Dalam mencari dan mengumpulkan karya-karya Syekh Abdul Qadir al-Jailani itu, pria yang akrab dipanggil Syekh Mehmed di Turki ini, mengaku sudah mendatangi 400 perpustakaan di dunia. Pencarian manuskrip ini dilakukannya sejak berusia 20 tahun. Dan selama 30 tahun, ia tidak memberitahukan proses pencariannya kepada siapa pun.

“Saya senang sekali mencari dan mengumpulkan. Sejak usia 20 tahun saya mengumpulkan. Dan akan terus mengumpulkan. Bahkan saya akan mengabdikan hidup saya untuk karya-karya Syekh Abdul Qadir al-Jailani,” terangnya.

Pria yang lahir 1954 ini menambahkan, ada peneliti dari Jerman yang menulis bahwa Syekh Abdul Qadir al-Jailani memiliki 50 buku. Sementara, Majelis Fatwa Turki mengeluarkan keterangan bahwa Syekh Abdul Qadir al-Jailani memiliki 52 buku atau lebih.

“Sampai saat ini, saya sudah mengumpulkan 60 judul buku karya Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Dan telah kami cetak sebanyak 22 judul buku. Tahun ini akan dicetak lagi 6 buku, sehingga genap menjadi 28 buku,” jelasnya yang disambut tepuk tangan peserta.

Setelah menjelaskan proses pencariannya dan buku-buku Syekh Abdul Qadir al-Jailani yang ditemukannya, Sayyid Muhammad Fadil yang menganggap Indonesia sebagai negaranya yang kedua setelah Turki ini, menjelaskan sebagian kisah hidup Syekh Abdul Qadir al-Jailani.

Menurutnya, Syekh Abdul Qadir al-Jailani tidak pernah lepas dari wudu kecuali uzur, dan selalu menghidupkan sunah-sunah Nabi. Tarekat Qadiriyah yang didirikannya berdasarkan al-Qur’an dan sunah Nabi. “Jika ada yang bertentangan dengan al-Qur’an dan sunah Nabi, maka itu bukan Tarekat Qadiriyah,” tegasnya.

 

Mendirikan Sekolah untuk Umum

Dalam mengajarkan ilmu kepada murid-muridnya, kata Sayyid Muhammad Fadil, Syekh Abdul Qadir al-Jailani memiliki waktu tersendiri. Dari pagi sampai Zuhur mengajar ilmu fiqih dan tafsir. Setelah Zuhur, mengajar ilmu-ilmu umum termasuk kesenian.

Syekh Abdul Qadir al-Jailani juga mendirikan sekolah dan perpustakaan yang dibuka untuk masyarakat umum. Di pintu masuk sekolahnya, Syekh Abdul Qadir al-Jailani menulis, ‘Sekolah untuk umum (Islam dan non-Islam)’.

Murid-murid yang sekolah di sana tidak dipungut SPP atau iuran apa pun. Tidak membedakan miskin atau kaya, yatim atau bukan. Semua murid-muridnya mendapat fasilitas dan perlakuan yang sama.

Ulama’-ulama’ Baghdad mengagumi sekolah Syekh Abdul Qadir al-Jailani karena menerapkan metode-metode baru. Namun, ulama’-ulama’ Baghdad mengkritik sekolah itu karena dibuka untuk umum atau non-Muslim. Terhadap kritikan ini, Syekh Abdul Qadir al-Jailani  menghadapinya dengan sabar dan yakin bahwa suatu saat apa yang dilakukannya akan terbukti benar.

Selang beberapa tahun kemudian, banyak murid-murid non-Islam yang meminta masuk Islam kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Hal ini membuat ulama’-ulama’ Baghdad sadar bahwa Syekh Abdul Qadir benar, dan mereka pun meminta maaf kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani.

Kini, giliran para pendeta Nasrani, Yahudi, dan Majusi yang datang berbondong-bondong mendemo Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Mereka tidak menerima jika murid-murid dari kalangan mereka yang belajar di sekolah Syekh Abdul Qadir al-Jailani masuk Islam. Kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani mereka menuntut dua hal, yaitu menutup pintu sekolah untuk murid-murid non-Islam atau Syekh Abdul Qadir al-Jailani keluar dari negeri Baghdad.

Tuntutan ini dijawab oleh Syekh Abdul Qadir al-Jailani dengan mengumpulkan murid-murid non-Islam. Di hadapan para pendemo itu, Syekh Abdul Qadir al-Jailani bertanya kepada murid-murid non-Islam; kenapa kalian sekolah di sini? Apakah saya mendatangi rumah-rumah kalian dan meminta kalian untuk sekolah di sini? Apakah saya meminta kalian pindah agama? Apakah saya meminta imbalan kepada kalian? Apakah saya membeda-bedakan antara kalian yang miskin dan yang kaya? Terhadap pertanyaan-pertanyaan ini, semua murid non-Islam menjawab, “Tidak”.

Lalu, Syekh Abdul Qadir al-Jailani meminta kepada para pendeta untuk menanyakan kepada murid-murid itu kenapa mereka masuk Islam? Para pendeta pun bertanya sebagaimana permintaan Syekh.

Ada murid yang menjawab bahwa dirinya masuk Islam karena akhlak Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Murid itu menjelaskan bahwa akhlaknya tidak seperti akhlak para pendeta, tapi seperti akhlaknya Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Isa. Karena akhlaknya yang sangat mulia itulah, jelas murid itu, mereka kemudian berikrar membaca dua kalimat syahadat.

Mendengar pernyataan semacam ini, para pendeta tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

 

Mendamaikan Ulama’

Selain mengisahkan Syekh Abdul Qadir dengan sekolahnya itu, Prof Dr Sayyid Muhammad Fadil al-Jailani juga mengisahkan peran Syekh Abdul Qadir yang mampu mendamaikan ulama-ulama Baghdad yang suka bertikai.

Dikisahkannya bahwa ketika Syekh Abdul Qadir al-Jailani masih muda banyak ulama-ulama sepuh Baghdad yang antara satu dengan lainnya saling menghujat, menghina, dan kafir-mengafirkan tanpa didasari ilmu atau hasil penelitian sebelumnya.

Untuk menghentikan pertikaian itu, Syekh Abdul Qadir al-Jailani mengunjungi ulama-ulama itu dan mengundang mereka untuk berkumpul di sekolahnya guna mencari jalan yang benar. Terhadap upayanya ini, ada salah seorang ulama yang meragukannya dan berkata kepadanya, “Bagaiamana mungkin engkau bisa mengumpulkan ulama-ulama sepuh itu?” Syekh Abdul Qadir al-Jailani menjawab, “Dengan izin Allah, kami akan mengumpulkan mereka di sekolah kami agar mereka tidak bermusuhan.”

Terbukti, para ulama yang dikunjungi dan diundangnya hadir ke sekolahnya. Kepada para ulama yang suka bermusuhan itu, Syekh Abdul Qadir al-Jailani menegaskan, hendaknya permusuhan segera dihentikan. Sebab, permusuhan ulama menyebabkan perpecahan di antara umat Islam. Ditegaskannya pula bahwa Tuhan, Nabi, dan kitab yang dimiliki mereka adalah satu.

Selain itu, Syekh Abdul Qadir al-Jailani juga menyampaikan bahwa masyarakat akan hidup damai dan sejahtera melalui tiga kata, yaitu (1) ilmu, (2) kesepakatan, dan (3) sedekah. Dijelaskannya, ilmu adalah cahaya, sedangkan kegelapan adalah kebodohan. Buanglah kebodohan dengan ilmu.

Selanjutnya, perbedaan yang didasarkan atas permusuhan bukanlah rahmat. Perbedaan semacam itu tidak seperti perbedaan dalam 4 mazhab yang membawa rahmat. Oleh karena itu, singkirkanlah perselihan dengan kesepakatan.

Lalu, keluarkanlah harta atau bersedekahlah kepada yang berhak menerima, terutama kepada anak yatim, fakir, dan miskin. “Inilah nasihat Syekh Abdul Qadir al-Jailani kepada ulama Islam dan kepada umat Islam,” kata Sayyid Muhammad Fadil.

Setelah pertemuan itu, banyak ulama yang mulai sadar bahwa perkataan Syekh Abdul Qadir al-Jailani adalah benar dan pesan-pesannya sangat berwibawa. Maka, selang beberapa lama kemudian nuansa permusuhan yang selalu ditampakkan ulama Baghdad sedikit demi sedikit semakin menghilang.

Pada akhirnya, Syekh Abdul Qadir al-Jailani berhasil menyatukan ulama sepuh yang suka bermusuhan itu.

 

Jangan Berbohong

Sebelum mengakhiri kuliah umumnya, penemu Kitab Tafsir Syekh Abdul Qadir al-Jailani ini membacakan kitab Nashahihul Jailani (Nasihat-nasihat Syekh Abdul Qadir al-Jailani) karya lain dari Syekh Abdul Qadir al-Jailani yang ditemukannya. Bagian yang dibacanya adalah bab Ikhlas dan Meninggalkan Riya’.

Adapun bunyinya adalah sebagai berikut: “Kamu harus bersikap jujur dalam perkataan dan tindakan, baik sendirian atau bersama-sama, secara diam-diam atau terus terang.”

Menurut Sayyid Muhammad Fadil, Syekh Abdul Qadir al-Jailani mengatakan bahwa kejujuran itu adalah kepada Allah.  Selain itu, sambungnya, dalam pembacaan Syekh Abdul Qadir al-Jailani, posisi kejujuran di dalam al-Qur’an terdapat di nomor dua setelah kenabian. Karena itu, lanjutnya, Syekh Abdul Qadir al-Jailani menegaskan, kita wajib jujur.

“Apabila ada orang yang jujur meninggal dunia, maka ia berada di nomor dua setelah kenabian. Jadi, orang yang jujur itu, baik di dunia, di alam kubur, dan di akhirat akan bersama Nabi Muhammad,” kata Sayyid Muhammad Fadil.

Usai Kuliah Umum, cucu ke-25 Syekh Abdul Qadir al-Jailani ini, memberikan kenang-kenangan kepada 2 peserta dari putra dan putri berupa 2 Kitab Karya Syekh Abdul Qadir al-Jailani. 2 kitab itu diberikan kepada peserta yang bisa menjawab pertanyaannya. Peserta pun antusias mengikuti kuisnya.

Selain membagikan 2 buku, Sayyid Muhammad Fadil juga memberikan 1 kitab karya Syekh Abdul Qadir al-Jailani kepada Rektor Instika Drs. H. Abbadi Ishomuddin MA sebagai kenang-kenangan untuk Instika.

Tampak hadir dalam kuliah umum ini, para masyaikh Annuqayah, para Ibu Nyai Annuqayah, dosen dan guru di Annuqayah, mahasiswa Instika, santri Annuqayah, dan rombongan Markaz al-Jailani Jawa Timur yang hadir ke Annuqayah mendampingi Sayyid Muhammad Fadil.

Penulis: Masykur Arif