K. MA’RUF DI ANNUQAYAH, AJAK SANTRI BELA NEGARA DAN TIDAK PESIMIS

INSTIKA Rabu, 20 Maret 2019 08:24 WIB
200x ditampilkan Berita

Guluk-Guluk - INSTIKA - Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin mengunjungi Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep dalam rangka mengaji bersama dan memberikan ijazah kitab Shahih Bukhari, Selasa (19/3/2019), di halaman Perpustakaan Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA).

Usai memberikan ijazah, K. Ma’ruf menyampaikan tausiah dan mengajak santri untuk tidak pesimis dalam menjalani hidup. Santri tidak boleh minder dengan statusnya. Sebab, menurutnya, santri bisa jadi saudagar, santri bisa jadi bupati, santri bisa jadi gubernur, dan santri bisa jadi presiden. K. Ma'ruf memberikan contoh, bupati Bondowoso merupakan seorang santri, Gubernur Jawa Timur adalah santriwati, dan bahkan Indonesia pernah dipimpin oleh seorang santri, yakni KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. “Mudah-mudahan ke depan ada yang jadi presiden yang dari santri,” katanya.

K. Ma’ruf meminta santri untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi tantangan sepuluh tahun ke depan (10 Years Challenge). Menurutnya tidak hanya ilmu agama yang harus dikuasai santri tetapi juga ilmu-ilmu lainnya, seperti sains dan teknologi. Berbagai macam tantangan dan perubahan harus mampu dihadapi oleh seorang santri.

Sehubungan dengan itu, K. Ma’ruf menegaskan, seorang santri, sebenarnya, sudah punya paradigma atau landasan dalam menghadapi berbagai macam tantangan, yaitu (1) menjaga yang lama (tradisi) yang baik (Almuhafazhah alal qadimis shalih). (2) mengambil yang baru yang lebih baik (wal akhdzu bil jadidil ashlah). Lalu, K. Ma’ruf menambahkan satu lagi dengan mengatakan, melakukan perubahan terus-menerus kearah yang lebih baik atau inovatif. “Al-ishlah ila ma huwal ashlah tsummal ashlah fal ashlah,”, jelas K. Ma’ruf dalam bahasa Arab.

Setelah memberikan semangat kepada santri untuk terus belajar dan optimis, K. Ma’ruf menceritakan perjuangan santri dalam merebut NKRI dari tangan penjajah. Menurutnya, ketika NKRI belum terkonsolidasi dengan baik, Indonesia hampir kalah terhadap penjajah. Untunglah ada putra terbaik bangsa yang membela, yaitu Hadlratusy Syaikh KH. Hasyim Asy’arie, yang mengeluarkan fatwa bahwa jihad melawan penjajah adalah fardu ain.

Fatwa ini, lanjut K. Ma’ruf, kemudian diperkuat oleh pengurus besar Nahdlatul Ulama dengan mengeluarkan Resolusi Jihad pada tanggal 22 Oktober 1945. Hal inilah yang menginspirasi dan memotivasi para santri untuk melakukan perjuangan mengusir penjajah pada tanggal 10 November 1945 yang kemudian terkenal sebagai Hari Pahlawan. Akhirnya, tegas K. Ma’ruf, penjajah dapat diusir, meskipun harus dibayar dengan mahal, yakni banyak santri yang mati.

Namun, sayangnya, kata K. Ma’ruf, Resolusi Jihad yang disepakati pada tanggal 22 Oktober itu dilupakan hingga 70 tahun. “Baru kemarin dua tahun yang lalu ditetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional, oleh pak Jokowi,” jelasnya. Oleh karena itu, K. Ma’ruf meminta santri untuk berterima kasih kepada Presiden Jokowi yang sudah mengingatkan dan menetapkan perjuangan santri dalam menegakkan NKRI pada tanggal 22 Oktober.

Selain itu, K. Ma’ruf mengingatkan, sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, para santri sudah mengumandangkan kecintaannya dan rasa kepemilikannya kepada Indonesia lewat lagu Ya Lal Wathon. “Indonesia adalah negeriku. Siapa yang mengancamnya akan binasa, akan berhadapan dengan santri-santri Nahdlatul Ulama,” katanya.

Para santri juga diajak untuk menjaga agama dengan paham Ahlussunnah wal Jamaah. Menjaga agama dari aqidah-aqidah yang menyimpang dan tafsir-tafsir yang menyeleweng. Dalam berdakwah, K. Ma’ruf mengajak untuk berdakwah secara santun, tidak boleh caci maki dan marah-marah. Perbedaan agama dan partai atau pun pilihan capres tidak menjadi masalah. K. Ma’ruf menyarankan dalam memilih capres pilihlah pemimpin yang bisa menjaga agama dan mengatur masyarakat untuk bisa lebih maju dan sejahtera.

Sementara itu, KH. Muhamad Sholahuddin A Warits yang akrab dipanggil K. Mama’ mewakili keluarga besar PP Annuqayah menyampaikan terima kasih kepada K. Ma’ruf beserta keluarganya yang telah hadir ke Annuqayah. “Selamat datang di Pondok Pesantren Annuqayah,” ujar K. Mama’. Demikian juga K. Mama’ mengucapkan terima kasih kepada para masyaikh di seluruh pesantren di Sumenep yang hadir pada kesempatan ini serta kepada Keluarga Besar yang turut mengundang, yakni pengasuh Ponpes Sidogiri dan pengasuh Ponpes Nurul Jadid.

K. Mama’ juga menyampaikan terima kasih kepada keluarga besar pendiri Nahdlatul Ulama’ dan Pondok Pesantren Tebuireng Jombang serta keluarga besar mantan presiden Indonesia KH Abdurrahman Wahid, yakni Zannuba Ariffah Chafsoh atau Yenny Wahid beserta keluarganya yang sudi hadir untuk kesekian kalinya ke Annuqayah. Demikian juga, K. Mama’ menyampaikan terima kasih kepada Bupati Sumenep KH. Abuya Busyro Karim beserta keluarganya yang juga hadir pada acara ini.

K. Mama’ menegaskan bahwa acara ini merupakan salah satu usaha santri dalam menangkal berbagai berita hoaks yang berupaya memecah Nahdlatul Ulama’. “Ini adalah bentuk dari bagaimana kami (anak-anak santri Nahdlatul Ulama’) menghadapi tantangan zaman ini,” terang K. Mama’.

Penulis: Masykur Arif (LP2D)