PROMOSI DOKTOR, DAMANHURI PAPARKAN TIGA POLA PEMIKIRAN KIAI

INSTIKA Sabtu, 31 Agustus 2019 08:56 WIB
373x ditampilkan Galeri Headline Berita

Yogyakarta - INSTIKA - Damanhuri, S.Ag., M.Ag., salah satu dosen tetap Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Guluk-Guluk Sumenep sukses mempertahankan disertasinya dalam Ujian Terbuka Program Doktor Studi Islam, Kamis (29/8/2019), di Aula Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Disertasi yang diujikan itu berjudul 'Kiai, Kitab dan Hukum Islam (Relasi Kuasa Teks dan Otoritas Keagamaan di Sumenep, Madura).' Disertasi ini mengungkap; (1) relasi kuasa antara teks dan Kiai di Sumenep, (2) bagaimana relasi ini melahirkan otoritas keagamaan, dan (3) implementasinya terhadap hukum Islam.

Melalui teori relasi-kuasa Foucault, otoritas keagamaan Aboe al-Fadl, dan konsep teks Gracia, dan dengan metode triangulasi pengumpulan data, Damanhuri menelaah relasi teks dan otoritas keagamaan pada 15 Kiai di Sumenep.

Menurut Damanhuri, penelitiannya menghasilkan temuan bahwa pola pemikiran Kiai di Sumenep, sebagaimana terdapat pada karya-karyanya, dapat diklasifikasi menjadi tiga; tradisionalis, post-tradisionalis, dan modernis.

Lebih jauh dijelaskannya, bahwa yang dimaksud pemikiran tradisionalis adalah Kiai pesantren yang menghasilkan karya dari hasil reproduksi atas karya-karya ulama klasik. "Sehingga nuansa pemikiran tradisionalnya sangat tampak," jelasnya.

Post-tradisionalis adalah pemikiran Kiai yang memadukan antara karya-karya ulama klasik dengan karya-karya ilmuwan kontemporer.

Sementara yang modernis adalah pemikiran Kiai yang banyak mengulas tentang etika dan sufistik. "Pemikiran ini bisa disebut sebagai new-sufisme," terangnya.

Melalui tiga pola pemikiran tersebut, Damanhuri menegaskan, Kiai menjalankan otoritas keagamaannya atas pemahaman dan perilaku yang berbeda dalam kehidupan sosial. Di samping itu, guna memperkuat otoritas keagamaannya, seorang kiai -selain ditunjang dengan pengetahuan yang tertuang dalam kitab-kitab yang ditulisnya- juga dibangun melalui relasi kekerabatan dan pesantren yang didirikan.

Suksesnya Damanhuri mempertahankan pemikiran dalam disertasinya di hadapan para penguji, ketua sidang promosi doktor, Prof. Drs. KH. Yudian Wahyudi, MA., Ph.D., memutuskan bahwa dirinya meraih gelar doktor dengan nilai Sangat Memuaskan.

Dengan demikian, di lingkungan civitas akademika INSTIKA, Damanhuri telah tercatat sebagai dosen ke-9 yang meraih gelar doktor. Pimpinan, dosen, dan seluruh civitas akademika mengucapkan selamat dan sukses.

Penulis: Masykur Arif (LP2D)