Pusat Studi Aswaja Sukses Gelar Webinar Radikalisme Agama dan Sekuler

INSTIKA Ahad, 6 September 2020 09:39 WIB
162x ditampilkan Galeri Headline Berita

Guluk-Guluk - INSTIKA - Radikalisme agama dan radikalisme sekuler merupakan dua paham yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Disebut demikian karena keduanya sama-sama menginginkan perubahan secara ekstrem sistem NKRI yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesatuan, kebhinnekaan, keadilan dan demokrasi.

Radikalisme agama menginginkan negara sepenuhnya berada di bawah kendali aturan agama. Sementara radikalisme sekuler menginginkan sepenuhnya negara di bawah aturan akal manusia dan menyingkirkan hal-hal yang berbau agama dalam kehidupan bernegara.

Untuk mendalami dua paham ekstrem tersebut, Lembaga Pusat Studi Aswaja (LPSA) Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Guluk-Guluk Sumenep, Sabtu (5/9/2020), mengadakan Webinar dengan tema: "NKRI dalam Bayang-Bayang Radikalisme Agama dan Radikalisme Sekuler".

Mengenai LPSA, Wakil Rektor III M Mushthafa MA, dalam sambutannya menyampaikan bahwa lembaga tersebut didirikan untuk membentengi dan menguatkan ideologi Ahlussunnah Waljamaah. Terlebih, katanya, INSTIKA sebagai kampus yang ada di bawah naungan PP Annuqayah berhaluan Aswaja. Karena itu, dipandang perlu untuk memberikan pendidikan dan penguatan ideologi tersebut kepada seluruh civitas akademika INSTIKA dan masyarakat pada umumnya.

Selanjutnya, WR III ini memberikan apresiasi kepada LPSA yang mengadakan webinar yang dihadiri oleh para pakar Radikalisme dan diikuti oleh para peneliti dan praktisi pendidikan di seluruh Indonesia.

Sementara itu, Kepala LPSA, Ach Rofiq SThI MPdI, menyampaikan tujuan diadakannya webinar tersebut. Menurutnya, webinar tersebut bertujuan untuk memberikan pemahaman terhadap ancaman dua radikalisme itu, sekaligus untuk mengetahui cara mengantisipasinya.

"Di samping itu, webinar ini juga untuk memberikan pemahaman mengenai ideologi Ahlussunah Waljamaah yang mendukung tegaknya NKRI," ujarnya.

Rofiq melanjutkan, sehubungan dengan webinar itu, LPSA mendatangkan narasumber yang kompeten dalam isu-isu radikalisme agama dan radikalisme sekuler.

"Kami mendatangkan Pak Suratno sebagai akademisi lulusan Universitas Frankfurt Jerman sekaligus peneliti radikalisme untuk berbicara tentang kronologi historis munculnya radikalisme di dunia dan khususnya di Indonesia. Serta identifikasi paparan radikalisme serta cara deradikalisasinya khususnya di lembaga pendidikan," papar Rofiq.

Selanjutnya, tambahnya, Prof Masdar Hilmy, yang diundang juga diminta untuk berbicara tentang isu-isu strategis radikalisme di dunia pendidikan dan bagaimana cara mengantisipasinya.

"Alhamdulillah, dua narasumber tersebut bisa hadir sehingga webinar berjalan sebagaimana yang diharapkan," ungkap Rofiq.

Rofiq juga mengungkapkan, sebenarnya ada satu pembicara lagi yang hadir untuk memberikan pendangannya mengenai radikalisme. Namun karena jaringan eror sehingga penyampaiannya terputus di tengah  jalan.

Kepala LPSA yang melanjutkan pendidikan S-3 di IAIN Jember ini juga melaporkan jumlah peserta aktif webinar ini, yakni 112 peserta. Sementara yang mendaftar untuk mengikuti acara ini sebanyak 375 orang.

"Bagi yang tidak sempat mengikuti secara langsung seminar ini dapat menyimak di YouTube Channel INSTIKA. Sudah tersimpan di sana," pungkasnya.

Penulis: Masykur Arif (LP2D) ​​​​​​