Klarifikasi dari SR Mengenai Surat Terbuka untuk Rektor INSTIKA

INSTIKA Rabu, 7 Juli 2021 18:17 WIB
74x ditampilkan Berita

Guluk-Guluk - INSTIKA - Sempat beredar berita dengan judul "Surat Terbuka untuk Rektor Instika Guluk-Guluk Sumenep" yang tayang di portal berita online apoymadura.com, Selasa (18 Mei 2021).

Isi berita itu menjelaskan bahwa redaksi apoymadura.com menerima pesan suara via sosial media dari seseorang yang berinisial SR.

SR dalam berita itu mengungkapkan kekecewaannya kepada pihak kampus yang tidak segera mengeluarkan ijazahnya. Padahal, dirinya sangat menginginkan ijazah itu segera keluar.

Mendapatkan informasi ini, menurut Wakil Rektor (WR) 1 INSTIKA Dr H Damanhuri MAg, pihaknya segera mengecek kevalidan berita itu. Pihaknya kemudian menghubungi mahasiswa yang berinisial SR yang menjadi sumber berita tersebut.

Hari ini (Rabu, 7 Juli 2021) SR bersama suaminya datang ke INSTIKA untuk mengambil ijazah sekaligus mengklarifikasi berita yang dimaksud. Menurut pengakuannya di hadapan wakil rektor 1, SR tidak tahu-menahu dengan isi berita itu, dan mengatakan bahwa semua yang diutarakan dalam berita itu tidak benar.

Dalam pesan suara yang disampaikan ke redaksi instika.ac.id melalui WR I, SR mengklarifikasi berita itu. Berikut pernyataan lengkapnya:

"Saya atas nama Sundari membuat pernyataan bahwa berita yang kemarin di media itu tidak benar. Dan, saya memohon permintaan maaf kepada seluruh personalia terutama kepada yang terhormat yang mulia Bapak Kiai Ishomuddin sebagai rektor. Permintaan maaf ini saya ajukan atas nama Sundari. Demikian, terima kasih."

Kiai Ishomuddin yang dimaksud dalam pernyataan itu adalah Kiai Abbadi Ishomuddin mantan rektor INSTIKA yang menjadi rektor saat Sundari masih aktif sebagai mahasiswa.

Berikut adalah berita yang diklarifikasi itu:

Surat Terbuka untuk Rektor Instika Guluk-Guluk Sumenep

Sumenep – Seorang perempuan beranak dua berinitial SR warga Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep mengirimkan pesan suara via sosial media kepada www.apoymadura.com. Selasa, 18 Mei 2021. Pukul 21.00 WIB.

Isi voice note itu tentang kekecewaan SR (40 tahun) terhadap Instika karena ijazah yang diidam-idamkan belum ada di tangan. Berikut petikan lengkapnya:

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarkatuh.

Saya salah satu dari sekian banyak alumnus Perguruan Tinggi Terbaik di Kota Keris Sumenep, yakni Instika (Institut Ilmu Keislaman Annuqayah) yang berlokasi di Kecamatan Guluk-Guluk Kabupaten Sumenep Madura.

Saya direkomendasikan oleh seorang guru di lingkungan Pondok Pesantren Annuqayah untuk melanjutkan pendidikan di Instika. Ditambah lagi, kepala sekolah tempat saya mengajar menganjurkan untuk memiliki gelar S1. Siapa tahu nasib lagi mujur bisa ikut tes CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil).

Setelah menjual perhiasan emas, saya diantar suami mendaftar ke Instika. Suami terus memberi motivasi dengan mengantar saya pulang-pergi kuliah naik sepeda motor berjarak tempuh dari rumah ke Instika 27 km. Perjuangan tidak berhenti di situ, ketika saya dituntut meninggalkan 2 anak yang masih kecil (satu sedang disusui) kepada neneknya saat kuliah.

Dalam hati, kami percaya kalau perjuangan dan pengorbanan ini akan membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Tapi lacur, impian manis itu jauh panggang dari api. Ijazah diharapkan belum keluar karena masih ada di Surabaya (menurut Kabag. Admin. Kemahasiswaan, Masturi, S.Pd.I).

Saat ini saya bena-benar kecewa pada Instika karena ijazah tak kunjung keluar. Padahal saya diwisuda 2019. Kekecewaan itu berganti jadi sakit hati, ketika ada informasi seleksi CPNS dan PPPK pada Mei ini. Salah satu syarat untuk bisa ikut tes diutamakan yang bertitel S1.

Semoga kisah sedih ini menjadi pelajaran sangat berarti bagi semua pihak agar kedepan tidak ada yang mengalami nasib seperti saya. Terima kasih.

Wassalamualaikum warahmatullahhi wabarkatuh.”

Demikian pesan suara yang dikirimkan SR.  Semoga pihak yang berkompeten bisa memberikan atensi terhadap pihak korban. Karena sejatinya pelayanan yang baik akan memberikan dampak positif bagi civitas academica Instika.

Ada tambahan sedikit, SR menjadi guru sukwan disalah satu SDN bersama suaminya. Tiap bulannya mereka berdua mendapatkan honor tidak lebih dari Rp 500.000,- (Yant Kaiy)

Penulis: Masykur Arif (LP2D)