Mahasiswa INSTIKA dan IST Lolos sebagai Peserta Pejuang Muda Kemensos dan Kemendikbud

INSTIKA Kamis, 21 Oktober 2021 06:40 WIB
115x ditampilkan Berita

Guluk-Guluk - INSTIKA - Tiga mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) dan satu mahasiswa Institut Sains dan Teknologi (IST) Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep lolos sebagai peserta Pejuang Muda.

Seperti dijelaskan pada laman pejuangmuda.kemensos.go.id, Pejuang Muda adalah laboratorium sosial bagi para mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu dan pengetahuannya guna memberi dampak sosial secara konkret.

"Bersama Kementerian Sosial, mahasiswa akan merancang dan mengeksekusi program sosial yang relevan untuk daerah tersebut," tulis di laman tersebut.

"Program tersebut sebenarnya sama dengan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Disetujui oleh Kemendikbud, program tersebut setara dengan 20 SKS," kata Kiai M. Mushthafa MA, wakil rektor III INSTIKA.

Mahasiswa dari Kampus Annuqayah yang lolos tersebut adalah (1) Budi Yanto (INSTIKA), (2) Ahmad Sanusi (INSTIKA), (3) Moh. Syairofi (INSTIKA), dan (4) Sri Riani Wulandari (IST Annuqayah).

Mereka sudah melewati beberapa tahap seleksi, mulai dari tahap seleksi abdiministrasi, tes tulis hingga tes wawancara. Pesertanya terdapat 11.109 orang. Sedangkan yang diterima sejumlah 4.568 orang. "Alhamdulillah, kami termasuk yang empat ribuan orang yang lolos Pejuang Muda itu," kata Budi Yanto.

"November nanti, rencananya, kami akan diberangkatkan ke tempat pengabdian yang sudah ditetapkan pihak Pejuang Muda," kata Budi Yanto, mahasiswa prodi Tasawuf dan Psikoterapi (TP) Fakultas Ushuluddin saat ditemui di kampus INSTIKA (20/10/2021). Ia mengatakan, dirinya, oleh pihak Pejuang Muda, ditempatkan di Nusa Tenggara Barat (NTB) tepatnya di Pulau Sumbawa.

"Sebenarnya saya memilih tempat di Sumenep, sebagaimana teman-teman saya yang lain, tetapi dalam program ini, kami harus siap ditempatkan di mana saja," ujarnya.

Menurut Budi Yanto, teman-temannya dari INSTIKA ditempatkan di Sumenep, hanya dirinya yang ditempatkan yang jauh dari tempat kelahirannya. "Tapi saya sudah siap ditempatkan di mana saja, sesuai kebijakan dari pihak Pejuang Muda," ujarnya penuh semangat. Ia memang sangat ingin menambah pengalaman dan pengetahuan berkumpul di tengah-tengah masyarakat, mengabdi kepada masyarakat meski jauh dari kota lahirnya.

Sementara, Ahmad Sanusi dan Moh. Syairofi, keduanya mahasiswa prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) fakultas Tarbiyah, sangat bersyukur karena lolos sebagai peserta Pejuang Muda dan ditempatkan di kota lahirnya. "Meski kami belum tahu, kami akan ditempatkan di daerah Sumenep bagian mana. Dan apakah kami satu kelompok atau tidak. Karena dalam satu kota bisa jadi ada dua atau lebih kelompok," kata Sanusi.

Dengan program Pejuang Muda, Ahmad Sanusi ingin mempraktikkan teori dan konsep pengetahuan yang selama ini dipelajarinya di bangku kuliah. "Inilah program yang bisa benar-benar membuat kami bersama Kemensos melebur ke tengah-tengah masyarakat, belajar dan memberikan solusi atas segala persoalan yang dihadapi masyarakat," ujarnya.

Tidak jauh beda dengan Sanusi, Moh Syairofi mendaftarkan diri sebagai peserta Pejuang Muda karena ingin bersama-bersama masyarakat menyelesaikan masalah yang dihadapi masyarakat. Ia ingin memberikan pengabdian kepada masyarakat dengan semangat juang tinggi sebagaimana yang diharapkan kementerian sosial.

"Melalui program ini, saya juga ingin membahagiakan kedua orang tua saya dan guru-guru kami, mulai dari guru alif hingga guru di perguruan tinggi. Karena berkat doa dari mereka saya bisa belajar untuk menjadi orang yang berguna bagi masyarakat," kata Syairofi.

Penulis: Masykur Arif (LP2D)