Seminar Nasional APAISI 2021, Perkuat Profesi Lulusan Pascasarjana Agama Islam Swasta

INSTIKA Rabu, 15 Desember 2021 11:21 WIB
162x ditampilkan Galeri Headline Berita

Guluk-Guluk - INSTIKA - Perubahan soial dan teknologi menjadi isu penting yang diangkat dalam Seminar Nasional Asosiasi Pascasarjana Agama Islam Swasta Indonesia (APAISI) bekerja sama dengan Program Pascasarjana Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Guluk-Guluk Sumenep, Selasa (14/12/2021), di Aula Asysyarqawi.

Isu tersebut sesuai dengan tema seminar, yaitu “Penguatan Profesi Lulusan Pascasarjana Agama Islam Swasta: Membangun Peluang Kerja dan Jejaring Kemitraan di Era Revolusi Industri 4.0, Society 5.0, dan Pendidikan Abad 21.”

Ada lima narasumber yang dihadirkan dalam kegiatan ini, yaitu Prof. Dr. H. Imron Arifin, M.Pd., Prof. Dr. Ir. Raihan, M.SI., Prof. H. Mas'ud Said, Ph.D., Prof. Dr. Sunardji Dahri Tiam, M.Pd., dan Dr. H. Damanhuri, M.Ag. Seminar ini dipandu oleh Ketua Program Studi Pascasarjana INSTIKA, Abd. Warits, MPdI.

Prof. Dr. H. Imron Arifin, M.Pd. menyampaikan, perubahan di Era Revolusi Industri 4.0, Society 5.0, dan pendidikan abad 21, ditandai dengan perubahan paradigma. "Dulu literasinya ada 3, yaitu baca, tulis dan hitung," katanya.

Namun, di era Revolusi Industri 4.0 semua itu berubah, meski tetap 3 paradigma, yaitu: data, teknologi dan human literacy. Semua data, katanya, ditaruh dan diakses di internet.

Menurut Sekretaris Jenderal APAISI ini, perubahan tersebut harus kita terima. Perubahan itu sangat cepat, maka disebut revolusi. "Inilah tantangan terbesar kita sekarang," jelasnya.

Karena itu, tambahnya, kita harus memahami teknologi, kreatif, dan pandai berkolaborasi. "Maka kolaborasi, seperti APAISI ini menjawab tantangan abad 21," katanya.

Prof. Dr. Ir. Raihan, M.SI. dalam penyampaiannya mengangkat tema: Pengembangan Kewirausahaan Berbasis Revolusi Industri 4.0 dalam Penyiapan Profesi Kerja di Bidang Keagamaan.

"Indonesia memiliki potensi lebih dari 50% dua generasi yaitu generasi millenial dan generasi Z," katanya. Ia juga mengatakan, perguruan tinggi yang tidak mampu melakukan perubahan di Era Revolusi Industri 4.0 akan ketinggalan.

Ia juga menambahkan, masyarakat Indonesia saat ini memiliki tantangan. "Apa tantangannya?" tanyanya. Rupanya, tantangan tersebut adalah dunia digital. Menurutnya, Indonesia perlu meningkatkan kinerja pada industri digital.

Selanjutnya, Prof. H. Mas'ud Said, Ph.D. menyampaikan, apabila kita melihat dan mempelajari 10 universitas terbaik di dunia, maka kita akan mengetahui apa yang mereka kerjakan. 

Menurut pengamatannya, 10 universitas terbaik di dunia itu mengerjakan beberapa hal, di antaranya: membangun lingkungan yang dinamis untuk memperbaiki diri, kelembagaan yang kuat, SDM, sistem informasi, dan kerja sama yang bagus, memiliki doktor yang mumpuni dan memiliki guru besar yang banyak, serta memiliki kontribusi terhadap ilmu pengetahuan dan peradaban.

Sementara itu, Prof. Dr. Sunardji Dahri Tiam, M.Pd. mempertanyakan kondisi umat Islam yang sibuk mengikuti perubahan-perubahan yang diciptakan oleh Barat.

Ia mengharapkan umat Islam tidak hanya sibuk dengan perubahan yang diciptakan Barat, tetapi harus mampu bikin perubahan sendiri. Caranya adalah dengan menguasai ilmu pengetahuan. Sebab, menurutnya, umat Islam pernah menguasai ilmu pengetahuan sehingga menjadi kiblat dunia.

Oleh karena itu, tambahnya, kita harus kembali menyusun konstruksi ilmu pengetahuan Islam yang telah hilang.

Sementara narasumber terakhir Dr. H. Damanhuri, M.Ag. menyampaikan, bahwa  sebagaimana disampaikan penyaji sebelumnya, kita sedang berada dalam peradaban digital. Hal ini ditandai dengan pengguna mobile atau gadget yang lebih banyak ketimbang populasinya. "Jadi, satu orang bisa memiliki handphone dua," katanya.

Dan, lanjut Wakil Rektor 1 INSTIKA ini, profesi yang paling diminati saat ini adalah menjadi youtuber. "Bukan PNS seperti yang diminati orang-orang dahulu," katanya.

Oleh karena itu, tambahnya, menguasai teknologi adalah hal yang sangat diperlukan saat ini.

Penulis: Masykur Arif (LP2D)