Sekretaris Koordinator Kopertais IV Nilai Ikrar Sarjana INSTIKA Luar Biasa

INSTIKA Rabu, 26 Oktober 2022 17:29 WIB
145x ditampilkan Galeri Headline Berita

Guluk-Guluk - INSTIKA - Dr. H. M. Hasan Ubaidillah, S.HI., M.Si., menilai Ikrar Sarjana Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Guluk-Guluk Sumenep sangat luar biasa. Sebab, ikrar nomor satu dinyatakan, semua mahasiswa INSTIKA adalah santri K. H. Muhammad Syarqawi. Ini, menurutnya, sangat penting. Sebab, di dalamnya berisi ajakan untuk menghormati dan mendoakan guru-guru pendahulu kita.

Sekretaris Koordinator Kopertais IV ini kemudian bercerita tentang Ibnu Malik yang sangat mengangungkan gurunya dalam karyanya Alfiyah. Sebab, ia sadar, bahwa tanpa gurunya ia tidak mungkin bisa menjadi orang hebat. “Ini pelajaran yang sangat penting bagi kita, kita harus menghormati dan mendoakan guru-guru kita,” terangnya saat menyampaikan Orasi Ilmiah di hadapan wisudawati INSTIKA, Rabu (26/10/2022), di Aula Asysyarqawi.

Di hadapan wisudawati INSTIKA, Dr. Hasan Ubaidillah juga menegaskan bahwa perempuan itu merupakan kereator sejarah. Peradaban dunia dibentuk karena perempuan. Dia mencotohkan, Nabi Adam ketika diciptkan sendirian, katanya, dia tidak bahagia. Tapi ketika diciptakan pasangannya, Hawa, ia kemudian menjadi bahagia dan bersama Sayyidah Hawa, Nabi Adam membangun peradaban di dunia.

Sekretaris Koordinator Koperatais IV ini juga mengajak wisudawati untuk mampu beradaptasi dengan zamannya. Sebab, baginya, orang-orang yang tidak bisa beradaptasi akan ketinggalan zaman. Bagaimana agar tetap eksis di setiap zaman? Tanya Dr. Hasan Ubaidillah. Dia kemudian memberikan jawaban dengan mengutip Nabi Muhammad, yakni dengan menjadi orang yang bermanfaat kepada orang lain.

Dan kunci kebermanfaatan, menurutnya, adalah kreasi dan inovasi. “Kreasi itu adalah mempunyai ide kreatif, menjawab segala kebutuhan masyarakat. Masyarakat saat ini butuh apa? Kita jawab tantangan itu. Ini namanya kreatif,” jelasnya. Di samping kreasi, lanjutnya, harus juga inovasi. “Ini adalah rumus khairunnas anfauhum linnas,” terangnya.

Dia juga mengingatkan bahwa kita sedang dijajah lewat makanan, pakaian, dan berbagai kesenangan. Banyak orang saat ini katanya yang suka dengan makanan-makanan dari luar negeri. Lidah kita sudah dibiasakan dengan rasa luar negeri sehingga menjadi lupa dengan makanan khas lokal. Pakaian juga demikian, banyak orang menggunakan pakaian yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Termasuk juga mencari kesenangan-kesenangan yang instan melalui HP yang dimiliki. “Ini merupakan tantangan bagi para sarjana saat ini, yakni meminimalisasi hal-hal yang tidak bermanfaat,” jelasnya.

Di akhir penyampaiannya, Dr. Hasan Ubaidillah juga menegaskan bahwa pesantren adalah tempat yang sangat tepat dalam mengasah kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Semua kecerdasan ini sangat penting bagi kita untuk meraih kesuksesan dan kebahagiaan. Oleh karena itu, kepada wisudawati, ia mengingatkan jangan melupakan pondok pesantren Annuqayah yang telah mendidik dan mengajarkan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual.

Penulis: Masykur Arif (LP2D)