Surabaya, UA Media — Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Wilayah Jawa Timur menegaskan komitmennya untuk memperkuat ekosistem ekonomi syariah melalui peningkatan literasi, inklusi, riset, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor.
Komitmen tersebut mengemuka dalam rangkaian Pelantikan Komisariat, Audiensi, Seminar Nasional, dan Rapat Kerja IAEI Wilayah Kerja Jawa Timur bersama Ketua Umum DPP IAEI yang juga Menteri Agama RI, Kamis, 27 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut mengusung tema “Ekonomi Syariah untuk Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur: Memperluas Literasi, Meningkatkan Inklusi, Menjaga Indonesia yang Harmoni dan Lestari.” Tema ini menjadi payung bagi empat agenda strategis IAEI Jawa Timur, yakni literasi ekonomi dan keuangan syariah, inklusi ekonomi dan keuangan syariah, harmonisasi dan keutuhan bangsa, serta keberlanjutan.
Dalam kegiatan tersebut, DPW IAEI Jawa Timur juga melantik kepengurusan DPW periode 2026–2031 serta 48 Komisariat IAEI. Salah satu komisariat yang dilantik berasal dari Universitas Annuqayah Sumenep, menandai keterlibatan UA dalam jejaring pengembangan ekonomi syariah di Jawa Timur.
Ketua Prodi Magister ES Universitas Annuqayah, Dr. H. M. Tajus Subqi, S.E, M.M mengatakan keterlibatan Universitas Annuqayah dalam jejaring IAEI tersebut memiliki relevansi kuat dengan keberadaan Program Studi Ekonomi Syariah Pascasarjana Universitas Annuqayah.
“Keberhasilan perguruan tinggi tidak cukup diukur dari seberapa banyak mahasiswa memahami teori ekonomi Islam. Lebih dari itu, ilmu ekonomi syariah diharapkan mampu melahirkan inovasi, kebijakan, bisnis, dan solusi bagi masyarakat,” katanya.
Menurut Ketua Komisariat IAEI Universitas Annuqayah ini kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat orientasi pendidikan dan penelitian ekonomi syariah berbasis kebutuhan nyata masyarakat, khususnya yang bersentuhan dengan pesantren, UMKM, industri halal, keuangan syariah, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Ke depan, jejaring tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi struktur organisasi, tetapi berkembang menjadi ruang pertukaran gagasan, kolaborasi akademik, dan gerakan ekonomi syariah yang memberikan dampak nyata. Sebagaimana ditekankan dalam agenda IAEI Jawa Timur, kekuatan komisariat bukan hanya terletak pada jumlahnya, melainkan pada kemampuan setiap komisariat untuk hidup, menghasilkan gagasan, membangun kolaborasi, dan memberikan manfaat bagi lingkungan,” katanya.
Keterlibatan dalam IAEI sekaligus menjadi peluang untuk semakin meneguhkan peran perguruan tinggi pesantren sebagai pusat pengembangan sumber daya manusia ekonomi syariah yang memiliki kapasitas keilmuan, adaptif terhadap perubahan, dan tetap berintegritas pada nilai-nilai Islam.
“Ekosistem akademik dan kelembagaan ekonomi syariah diharapkan dapat menjadi salah satu penggerak lahirnya riset, inovasi, dan kolaborasi yang menjadikan ekonomi syariah semakin membumi dan memberikan kemanfaatan bagi masyarakat,” pungkasnya.
Abdul Warits (Humas)