AKSIN WIJAYA: TAFSIR NUZULI MERUPAKAN TAFSIR KONTEKSTUAL

INSTIKA Rabu, 18 April 2018 11:46 WIB
115x ditampilkan Berita

Guluk-Guluk – INSTIKA - Ada dua bentuk metode tafsir yang dominan dipakai para mufasir selama ini, yaitu tafsir tajzi’i atau tahlili dan tafsir maudu’i. Kedua tafsir ini memiliki kecenderungan melupakan konteks turunnya wahyu. Maka, tafsir nuzuli hadir sebagai pengingat terhadap konteks turunnya wahyu itu.

Demikian, ungkap Dr Aksin Wijaya M Ag, Selasa (17/4/2018) dalam Seminar Nasional bertema ‘Rekonstruksi Sejarah Kenabian Perspektif Tafsir Nuzuli’ yang diselenggarakan Fakultas Ushuluddin di Ruang Pertemuan Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Guluk-Guluk Sumenep.

Menurut alumni Annuqayah ini, tafsir tahlili didasarkan pada asumsi bahwa pesan Tuhan sudah ada dalam al-Qur’an. Seorang mufasir dituntut mencari, menemukan, dan mencatat pesan Tuhan dalam al-Qur’an itu. Sayangnya, katanya, tafsir ini terkungkung dalam kaidah-kaidah linguistik dan tidak menjangkau non-linguistik (di luar konteks kebahasaan).

“Karena itu, tafsir ini dianggap tidak mampu menjawab hal-hal aktual,” jelas dosen IAIN Ponorogo ini. Selain itu, ia memambahkan, model tafsir ini cenderung statis, tunggal, dan tidak variatif sehingga tidak mampu melihat perkembangan dan persoalan zaman yang terus berubah.

Untuk menutupi kekurangan tafsir tahlili itu, maka lahirlah tafsir maudu’i. Menurut Aksin, apabila posisi mufasir pasif dalam tafsir tahlili, maka sebaliknya dalam tafsir maudu’i mufasir sangat aktif. “Pesan Tuhan berdialog dengan mufasir sesuai dengan problem kehidupan yang dihadapi,” katanya.

Namun, tambah penulis buku ‘Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan’ ini, pembaharuan yang diusung tafsir maudu’i cenderung ideologis, sehingga hasilnya bukan pesan Tuhan yang terungkap melainkan pesan ideologis penafsir. Tidak mengherankan, lanjutnya, apabila, misalnya, tafsir feminis sangat berbau feminis. “Tergantung ideologi mana yang menafsirkan,” terang lelaki yang lahir di Sumenep 1974 ini.

Tafsir maudu’i, lanjutnya, di satu sisi memang membawa pembaharuan sesuai problem zaman, tetapi di sisi lain terjebak pada dekontekstualisasi. “Yaitu dia melupakan konteks awal ketika Al-Qur'an itu turun,” jelasnya.

Dari kelemahan dua model tafsir tersebut, peraih gelar doktor dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini, menemukan tafsir yang tidak melupakan konteks turunnya wahyu, yaitu tafsir nuzuli. Ia mengkaji tafsir kontekstual ini melalui pemikiran Muhammad Izzat Darwazah pemikir asal Palestina.

Menurutnya, tafsir nuzuli tidak melupakan konteks turunnya wahyu seperti yang terjadi pada dua model tafsir tersebut. “Tafsir ini ingin melihat kembali konteks wahyu itu dilahirkan. Kita diajak bernostalgia ke masa lalu,” katanya.

Melalui tafsir nuzuli versi Darwazah yang fokus utamanya sejarah kenabian Muhammad, Aksin menemukan, al-Qur’an hidup, bergerak, dan berdialog dengan konteksnya. Al-Qur’an berbicara tentang pra-kenabian, pribadi Nabi, dan masa kenabian. Al-Qur’an juga berbicara dengan masyarakat Arab asli, masyarakat pendatang tapi dianggap sebagai orang Arab karena lama tinggal di sana atau naturalisasi (Nabi Muhammad masuk bagian ini), dan masyarakat non-Arab.

Penulis yang sebentar lagi akan menerbitkan buku terbarunya ini mengatakan, dengan tafsir nuzuli kita akan menemukan pesan dalam al-Qur’an serta perkembangannya yang mengikuti sejarah kenabian secara lebih jelas dan teliti.

Penulis: Masykur Arif (LP2D)