Silaturahmi Pimpinan, Dosen dan Karyawan: Evaluasi Penerapan Kode Etik dan Nilai Akademik

INSTIKA Kamis, 2 September 2021 04:33 WIB
222x ditampilkan Galeri Headline Berita

Guluk-Guluk - INSTIKA - Menyambut perkuliahan semester gasal tahun akademik 2021-2022 Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Guluk-Guluk Sumenep menyelenggarakan Silaturahmi Pimpinan, Dosen dan Karyawan, Rabu (1/9/2021), di Ruang Pertemuan.

Perkuliahan semester gasal, sebagaimana diinformasikan Rektor Drs KH Ah Syamli MPdI dalam sambutannya, akan dimulai Sabtu 4 September 2021.

"Saat ini pandemi belum selesai," katanya. Oleh karena itu, rektor mengharapkan dosen dan karyawan tetap menjalankan protokol kesehatan Covid-19.

Rektor juga mengharapkan, dosen ikut mengingatkan mahasiswa untuk mematuhi Kode Etik Mahasiswa (KEM). "Tentu kode etik dosen juga harus kita tegakkan dan kita amalkan," tambahnya.

Lalu, Kiai Syamli mengajak dosen untuk memberikan nilai akademik yang bagus kepada mahasiswa. "Tentu juga dengan pembelajaran dan bimbingan yang tambah baik," katanya.

Kiai Syamli juga mendorong dosen untuk terus meningkatkan karirnya, baik melalui tridharma maupun dengan melanjutkan pendidikan. Yang kepangkatannya Asisten Ahli diharapkan naik ke Lektor. Yang Lektor naik ke Lektor Kepala. "Mudah-mudahan sampai jadi Guru Besar," katanya.

Apa yang disampaikan oleh rektor tersebut dijabarkan lebih jauh oleh para wakil rektor sesuai dengan tugasnya masing-masing. Dimulai dari wakil rektor 1, Dr H Damanhuri MAg.

Dr Damanhuri mengungkapkan, durasi perkuliahan masih seperti semester sebelumnya, yakni durasi perkuliahan di masa pandemi. "Dari waktu normal 100 menit menjadi 75 menit," katanya.

Dr Damanhuri juga mengajak dosen untuk terus meningkatkan sistem pembelajarannya. "Kita bisa menerapkan berbagai metode dalam sistem pembelajaran," ujarnya. Tujuannya agar bisa membuat mahasiswa mudah memahami materi yang dipelajari.

Dengan demikian, lanjut wakil rektor yang pernah studi ke Australia ini, nilai akademik mahasiswa bisa semakin meningkat. Sebab, dalam pengamatannya, cukup banyak mahasiswa yang mendapat nilai akademik rendah. Sehingga dipandang perlu meningkatkan sistem pembelajaran yang diterapkan oleh dosen.

Apabila dosen memiliki halangan untuk melaksanakan perkuliahan sesuai yang ditetapkan, maka dosen boleh mengajukan asistensi. "Asistensi ini diperbolehkan asal sesuai aturan," kata Dr Damanhuri. Misalnya, dosen yang bersangkutan telah melakukan perkuliahan 50 persen, dan yang dijadikan asisten sudah lulus S2.

Untuk mahasiswa semester VII yang sedang melaksanakan KKN di bulan September 2021 jadwal perkuliahannya mundur hingga selesai KKN. Karena itu, dosen yang mengampu materi di semester VII, kata wakil rektor 1, bisa melakukan pemadatan perkuliahan sesuai kesepakatan dengan mahasiswa.

Usai pemaparan dari wakil rektor 1, kemudian dilanjutkan wakil rektor 2, H Mohammad Hosnan MPd. Wakil rektor yang salah satunya menangani masalah sarana dan prasarana ini menyampaikan, pihaknya sedang membangun lima ruang kelas. "InsyaAllah Desember ini sudah bisa ditempati," katanya.

Pihaknya juga sudah menata ruang kelas yang akan ditempati kuliah. Masing-masing kelas disediakan 35 kursi. Ini sesuai dengan rasio mahasiswa. "Mohon dosen atau mahasiswa tidak memindah kursi di satu kelas ke ruang kelas lain," ujarnya. Karena ini, lanjutnya, akan merusak penataan jumlah kursi di setiap kelas.

Wakil rektor 2 juga menegaskan, dosen dilarang melangsungkan perkuliahan di musala. Selain karena ruang kuliah sudah disediakan sesuai jadwal, juga ada mahasiswa yang kurang berkenan apabila melangsungkan perkuliahan di musala.

Selain itu, diinformasikan oleh wakil rektor 2, ada beberapa kelas yang sudah disediakan televisi. Dosen yang butuh alat bantu pembelajaran dapat menggunakan televisi tersebut.

"Mohon kepada para dosen untuk ikut membantu menjaga sarana dan prasarana yang ada," pungkasnya.

Selanjutnya, wakil rektor 3, K M Mushthafa MA, menyampaikan pesan-pesan untuk para dosen.

Dalam penyampaiannya, wakil rektor 3 meminta para dosen untuk juga terlibat atau membantu penegakan kode etik mahasiswa.  Sebab, katanya, masih sering dijumpai mashasiswa tidak melaksanakan kode etik dalam mengikuti perkuliahan.

"Masih terlihat di semester kemarin busana mahasiswa atau mahasiswi ada yang tidak sesuai kode etik," jelasnya.

Wakil rektor yang pernah mengikuti kuliah magister jurusan Etika Terapan di Utrecht University Belanda ini juga menyampaikan tentang tata krama mahasiswa dalam berkendara. Ia menegaskan, apabila dosen menemukan mahasiswa berkendara tidak dengan adab berkendara mohon untuk ditegur. Baginya, adab berkendara juga termasuk satu hal yang perlu mendapat perhatian khusus.

Selain itu, K Mushthafa juga meminta perhatian kepada dosen, baik yang struktural atau pun tidak, untuk memperhatikan persinggungan antara mahasiswa putra dan putri. Misalnya, K Mushthafa mencontohkan, ketika melaksanakan kegiatan praktikum di luar kampus. Hal ini, tegasnya, perlu mendapat pengawasan dari dosen.

Wakil rektor 3 juga meminta dosen untuk juga memperhatikan tata krama mahasiswa dalam menggunakan elektronik di media sosial. "Bagaimana menggunakan media sosial yang benar, ini perlu disampaikan kepada mahasiswa," katanya.

Wakil rektor 3 juga mengingatkan bahwa INSTIKA menggunakan label Eco Green Campus. Meski sekadar isu yang belum diseriusi betul, katanya, untuk mencapai itu perlu dimulai dari hal-hal kecil, seperti menjaga kebersihan lingkungan.

"Sebenarnya bukan hanya persoalan sampah, tetapi juga menjaga alat-alat pembelajaran di kampus agar tetap berfungsi dengan baik juga termasuk bagian dari menjaga lingkungan," jelasnya.

Terakhir, K Mushthafa meminta dosen untuk menegur dan melaporkan mahasiswa yang jarang masuk. Terutama mahasiswa yang tinggal di pesantren. "Sebab pengurus pesantren secara khusus meminta agar menegur mahasiswa santri yang jarang masuk," katanya.

Mengenai bagaimana dosen membimbing mahasiswa agar mematuhi kode etik, kata K Mushthafa, dapat dilakukan di sela-sela perkuliahan.

Dalam sesi tanya jawab, ada dosen yang meminta agar disediakan LCD Proyektor pada masing-masing kelas. Permintaan ini ditanggapi dengan positif oleh wakil rektor 2. Pihaknya, katanya, memang sedang berusaha untuk membeli dan memasang televisi sebagai ganti LCD Proyektor di setiap kelas. "Mudah-mudahan ini segera terwujud," ujarnya.

Di samping itu, dalam menerapkan kode etik mahasiswa, menurut dosen senior Drs H Masyhuri MPdI, hendaknya ada keseragaman pada masing-masing dosen. Sebab, katanya, tidak mungkin kode etik mahasiswa akan berjalan dengan maksimal jika hanya sebagian dosen yang melaksanakan, sementara dosen yang lain tidak.

Oleh karena itu, ia meminta pimpinan untuk melakukan sidak ke ruang-ruang kelas pada saat perkuliahan berlangsung. Dari sidak ini diharapkan kode etik mahasiswa benar-benar terlaksana dengan baik.

Berkenaan dengan masalah nilai akademik mahasiswa, mantan direktur Bank Mini Syariah INSTIKA ini, juga memberikan masukan. Menurutnya, hal yang sangat penting dilakukan dosen adalah membuat mahasiswa bernilai tinggi, bukan memberi nilai tinggi.

Dengan demikian, katanya, jika mahasiswa sudah bernilai tinggi, maka secara otomatis nilai akademiknya akan menjadi tinggi. "Inilah yang dimaksud memanusiakan mahasiswa," jelasnya.

Pimpinan merespon dengan cukup baik masukan dari Drs Masyhuri tersebut. Menurut wakil rektor 3, dosen memang butuh kekompakan dalam membantu menerapkan kode etik mahasiswa. "Dan insyaallah, kami akan melakukan sidak," katanya.

Sementara itu, wakil rektor 2 yang menjadi pemandu jalannya acara, menegaskan bahwa masukan dari mantan dekan fakultas Tarbiyah tersebut sangat bagus untuk meningkatkan nilai akademik mahasiswa. "Jadikan mahasiswa bernilai tinggi, bukan lantas memberi nilai tinggi," pungkasnya.

Penulis: Masykur Arif (LP2D)