Dewan Eksekutif BAN PT Soal Status Akreditasi Perguruan Tinggi Baru dan Prodinya

HKI-SYAR Senin, 6 Mei 2024 12:22 WIB
116x ditampilkan Galeri Headline Opini Berita

Jombang, Universitas Annuqayah- Dewan Eksekutif BAN PT Prof. Dr. Slamet Wahyudi, ST., MT mengatakan program studi baru atau perguruan tinggi baru bisa mendapatkan status terakreditasi yang sifatnya sementara manakala telah memperoleh izin penyelenggaraan atau izin pendirian dari Menteri.

Pernyataan itu disampaikan pada kegiatan Halal Bihalal dan Sarasehan Lembaga Pendidikan Tinggi NU (LPTNU) Jawa Timur di Universitas KH. Wahab Hasbullah, Pesantren Tambakberas Jombang, Jatim, Sabtu 4 Mei 2024.

Dengan merujuk pada Permendikbud Ristek No. 53 tahun 2023, lebih lanjut Slamet menambahkan, Status terakreditasi sementara sebagaimana pada poin diatas diberikan untuk masa berlaku selama 5 (lima) tahun untuk program studi baru; atau 8 (delapan) tahun untuk perguruan tinggi baru.

Profesor dari UB tersebut mewanti-wanti agar PTNU mencermati Permendikbud tersebut. Jangan dilihat mudahnya saja, tetapi pahami dan siapkan langkah-langkah yang terencana sehingga tidak ada masalah di belakang hari.

Diketahui, Permendikbud Ristek No. 53 Tahun 2023 mengatur tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi yang mengintegrasikan regulasi mengenai sistem penjaminan mutu, standar nasional, dan penyelenggaraan akreditasi perguruan tinggi di Indonesia.

Tiga Persoalan Dasar Pendidikan Tinggi  Menurut Dirjen Dikti Ristek

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi dan Ristek Republik Indonesia, Prof. Dr. rer. nat. Abdul Haris, M.sc mengungkapkan terdapat tiga persoalan mendasar pada pendidikan tinggi di Indonesia.

"Tiga hal itu adalah inequality of access atau ketimpangan akses pendidikan tinggi, inequality of quality atau ketimpangan dalam hal kualitas, serta kurangnya relevansi pendidikan tinggi (less relevance of higher education)," katanya.

Pihaknya mengungkapkan bahwa pemerintah mendorong peningkatan nilai angka partisipasi kasar (APK) perguruan tinggi dan juga memperluas akses pendidikan tinggi yang berkualitas dalam mengatasi berbagai persoalan tersebut.

Menurutnya, pemerintah menemukan suatu dilema saat melihat adanya 1,2 juta pengangguran terdidik berdasarkan data BPS tahun 2022. Selain itu terjadi perubahan landscape dunia kerja bahwa ijazah dan gelar akademik tidak lagi menjadi jaminan untuk memperoleh pekerjaan.

"Dengan demikian pemerintah melalui Kemendikbud Ristek secara serius dalam membenahi hal tersebut dengan meningkatkan kualitas pendidikan tinggi," kata dia.

Dirinya mengatakan, sejumlah perguruan tinggi juga terus didorong untuk meningkat pada rangking perguruan tinggi global, serta meningkatkan kualitas lulusan yang siap pada profesi tertentu.

Namun, ia menyebut ada kendala salah satunya faktor lambannya perguruan tinggi dalam beradaptasi dengan perubahan yang menjadi persoalan serius dewasa ini. Selain itu, juga munculnya model alternatif dalam pendidikan dan pelatihan yang berbasis digital karena dapat secara fleksibel dan murah dari segi operasionalnya.

"Oleh sebab itu Dirjen Dikti partisipasi dari masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi tidak bisa dinafikan," kata dia.

Ia menyebut, dari sekitar 9,8 juta mahasiswa Indonesia, hampir 5,1 juta mahasiswa kuliah di perguruan tinggi swasta. Untuk itu, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Ristek juga berkolaborasi dengan pengelola perguruan tinggi swasta, termasuk perguruan tinggi di lingkungan Nahdlatul Ulama mengurangi ketimpangan akses layanan pendidikan tinggi, kualitas pendidikan tinggi, dan relevansi pendidikan tinggi tersebut.

Harapan LPTNU untuk Perguruan Tinggi NU

Ketua Lembaga Pendidikan Tinggi NU Jawa Timur, Prof. Dr. Ir. Achmad Jazidie, M.Eng. mendukung dan menyambut baik apa yang disampaikan oleh Dirjen Dikti. LPTNU yang didirikan sejak 2010 telah cukup lama bersama PTS NU untuk turut serta meningkatkan SDM bangsa dalam wadah organisasi Nahdlatul Ulama.

"Di Jawa Timur, sedikitnya ada 104 PTS yang berafiliasi dengan LPTNU Jatim, hal ini tentu tidak sedikit," kata Jazidie yang juga Rektor Unusa ini.

Ia menjelaskan bahwa yang utama dan paling utama dalam konteks ini adalah Pangkalan Data Perguruan Tinggi (PDDikti) harus lengkap dan tertib, serta Budaya penjaminan mutu harus berjalan.

“Mustahil bisa akreditasi baik, jika budaya mutu dan penjaminan mutu tidak berjalan. Oleh sebab itu pada periode kepengurusan kami di LPTNU Jawa Timur, telah menggalakkan kegiatan penjaminan mutu internal seperti pelatihan auditor mutu internal. Selain itu, kami juga mendorong PDDikti PTNU di Jatim harus baik,” papar Jazidie yang juga Rektor Unusa ini.

Ketua Lembaga Perguruan Tinggi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LPT-PBNU), Prof. H. Ainun Na'im, Ph.D,. M.B.A menyampaikan, untuk menjadikan perguruan tinggi dengan kriteria unggul bukanlah suatu hal tidak bisa diraih.

"Mengapa? karena Indonesia saat ini masih mengalami pertumbuhan penduduk, bahkan kita masih menikmati bonus demografi. Artinya, penduduk dengan usia produktif lebih besar, dan mereka masih memerlukan layanan pendidikan tinggi. Dengan demikian, kita memerlukan sistem tata kelola yang baik untuk mencapai itu semua," ungkapnya saat mengisi materi secara virtual.

Guru Besar Akuntansi UGM ini juga mengatakan, perguruan tinggi di bawah LPTNU memiliki modal dalam menjawab tantangan global. Seperti kehadiran Artificial Intelligence (AI) yang dimungkinkan mengancam peran manusia.

"Manusia tetap diperlukan sebagai problem solver, sehingga eksistensi manusia tidak akan kalah dengan sistem yang diciptakannya. Dengan bermodalkan nilai-nilai yang ada di NU, kita bisa menjawab tantangan semacam itu. Bagaimana kita menjaga perdamaian, sikap mental yang telah ditanamkan dan kita dakwahkan kepada masyarakat," imbuhnya.

Hadir sebagai pembicara sarasehan di antaranya: Dirjen Dikti Prof. Dr. rer. nat. Abdul Haris, M.sc, Direktur Diktis Kemenag yang diwakili Kasubdit Ketenagaan M. Aziz Hakim, MH., Ketua Lembaga Pendidikan Tinggi PBNU Prof. H. Ainun Na'im, Ph.D,. M.B.A., Dewan Eksekutif BAN PT Slamet Wahyudi, Ketua PWNU Jawa Timur KH. Abdul Hakim Mahfudz

Dari Keluarga Besar Universitas KH Wahab Hasbullah di antaranya: Ketua Yayasan Ponpes Tambakberas Nyai Hj. Khisbiyah Wahab, KH. Hasib Wahab, Ketua Dewan Pembina Yayasan), KH. Wafiyul Ahdi, Ny Hj. Awin Tammah (pengurus Yayasan), Rektor Unwaha Prof. Dr. Ir. H. Gatot Ciptadi, DESS, IPU, ASEAN Eng, dan jajaran serta beberapa Pengurus LPTNU Jatim termasuk perwakilan dari Universitas Annuqayah, Guluk-Guluk Sumenep.