Rancang Kurikulum KKNI-MBKM, Fakultas Ushuluddin Serap Aspirasi dari Stakeholder

USHULUDDIN Rabu, 17 Agustus 2022 10:18 WIB
208x ditampilkan Galeri Headline Berita

Guluk-Guluk - INSTIKA - Fakultas Ushuluddin Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Guluk-Guluk Sumenep menggelar Focus Group Discussion Review Kurikulum berbasis Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) yang berorientasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), Selasa (16/08/2022) di Aula Pertemuan INSTIKA.

Dalam kegiatan ini, Fakultas Ushuluddin menghadirkan pengurus Yayasan Pondok Pesantren Annuqayah (Drs. K.H. Abbadi Ishomuddin, M.A.), Rektor INSTIKA (diwakili Wakil Rektor III, K. M. Mushthafa, M.A.), seluruh dosen tetap fakultas Ushuluddin, stakeholder (pengguna lulusan) dan pakar, di antaranya yang hadir: Dr. H. Ach. Maimun, M.Ag., (Direktur Pascasarjana INSTIKA), Ahmad Readi (Kepala Sekolah SMK Annuqayah),  Asy'ari Khatib (perwakilan MA 1 Annuqayah putri), Isma'il (perwakilan MTs 1 Annuqayah putri), Istibsyarah (perwakilan SMA 3 Annuqayah), dan K. Mohammad Khatibul Umam (Ketua BPM PP. Annuqayah). 

Di Ushuluddin ada dua program studi, yaitu Ilmu Al-Quran dan Tafsir (IQT) dan Tasawuf dan Psikoterapi (TP). Stakeholder yang diundang tersebut adalah dari dua program studi ini.

Menurut dekan fakultas Ushuluddin, Dr. Fathurrosyid, M.Th.I., kegiatan ini diharapkan dapat menyerap aspirasi dari stakeholder untuk menyusun kurikulum KKNI-MBKM di dua program studi tersebut.

"Kami mengharapkan masukan dari stakeholder sehingga nanti kurikulum KKNI-MBKM yang kami susun benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat," katanya.

Sementara, Wakil Rektor III, K. M. Mushthafa, M.A., dalam sambutannya mengharapkan FGD review kurikulum KKNI-MBKM bisa menghasilkan input kurikulum KKNI-MBKM yang maksimal. "Kasihan mahasiswa apabila input kurikulum ini tidak maksimal," jelasnya.

Lebih lanjut wakil rektor III itu menjelaskan, dalam menyusun kurikulum hendaknya melihat beberapa hal penting, di antaranya, pertama, berkaitan dengan potensi-potensi lokal Pondok Pesantren Annuqayah untuk diangkat dalam kurikulum. Misalnya, kata Kiai Mushthafa, hal ini bisa dilihat dari hasil penelitian mahasiswa yang berkaitan dengan Annuqayah.

Kedua, kekayaan naskah lokal, seperti manuskrip, baik yang ada di Annuqayah atau di Madura pada umumnya, menurut Kiai Mushthafa, penting juga untuk dimasukkan dalam kurikulum.

Ketiga, hasil-hasil penelitian dosen yang berkaitan dengan isu-isu keagamaan, seperti masalah otoritas keagamaan baru melalui media sosial, radikalisme, terorisme, dan korupsi bisa diakomodir dalam kurikulum.

Sementara itu, Ketua Yayasan Annuqayah, Drs. K.H. Abbadi Ishomuddin, M.A., dalam sambutannya mengharapkan kurikulum yang disusun benar-benar bisa diterapkan dalam kehidupan masyarakat. "Muatan-muatan mata kuliah yang tidak berkaitan langsung dengan visi program studi diganti saja," terang Kiai Abbadi.

Kiai Abbadi mengharapkan kurikulum yang disusun hendaknya banyak berkaitan dengan praktikum. Sebab, menurutnya, materi yang berkaitan dengan praktik akan lebih banyak manfaatnya, baik secara profesional maupun komersial.

Kegiatan FGD review kurikulum ini, menurut Kaprodi IQT, Izul Muttaqin, M.Th.I., dibagi menjadi empat sesi, sesi pertama pembukaan yang berisi arahan dari Yayasan Annuqayah, pimpinan INSTIKA dan pimpinan fakultas. Sesi kedua, overview isu-isu atau arah pengembangan kurikulum. Sesi ketiga, diskusi bersama stakeholder dan pakar. "Sesi terakhir kami berdiskusi bersama dosen tetap dua prodi di fakultas Ushuluddin. Tujuannya untuk menetapkan kurikulum KKNI-MBKM yang sudah mendapat masukan dari pimpinan dan stakeholder," katanya.

Sementara Kaprodi TP, Nuzulul Khair, S.Psi., M.A., mengatakan pihaknya sudah mencatat  berbagai masukan dari alumni, stakeholder, dan pakar. "Dari sekian masukan, intinya, khusus prodi TP, diperlukan tambahan kurikulum yang mengandung praktik untuk menambah pengetahuan di bidang konseling dan terapi," katanya.

Penulis: Masykur Arif (LP2D)