Kaprodi PIAUD INSTIKA Presentasi di Webinar Serumpun Antara Bangsa Indonesia-Malaysia

TARBIYAH Jumat, 16 Desember 2022 13:15 WIB
391x ditampilkan Galeri Headline Berita

Indonesia-Malaysia - INSTIKA - Perkumpulan Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Wilayah Indonesia Timur dan Wilayah Jatim-Madura-Bali berkolaborasi dengan Universiti Kebangsaan Malaysia menggelar Seminar Serumpun antara Bangsa Indonesia-Malaysia melalui Zoom Meeting, pada Selasa, (13/12/2022).

Seminar yang bertajuk 'Mewaspadai Bahaya "Virus" LGBT pada Anak' itu diikuti oleh mahasiswa, kaprodi/sekprodi/dosen PIAUD, orangtua, guru, dan masyarakat pada umumnya.

Sebagai Keynote Speaker hadir Prof.Madya Dr. Wan Shahrazad bt.Wan Sulaiman (Universiti Kebangsaan Malaysia) dan dr. Dewi Inong Irana, Sp.KK, FINSDV, FAADV (Rumah Sakit Permata Cibubur).

Sementara itu, kaprodi PIAUD INSTIKA, Mohamamd Afnan, M.Pd.I., hadir sebagai peserta dan salah satu Nara Sumber Panel. Ia menyampaikan materi dengan judul, 'LGBT, Child Grooming dan Attachment Parenting dalam Keluarga.'

Dalam presentasinya, Mohammad Afnan mengawali makalahnya dengan hadist Rasulullah SAW
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi orang Yahudi, orang Nasrani ataupun orang Majusi.

Paparan berikutnya, Mohammad Afnan, menjelaskan data KPAI mengenai perkembangan kasus pengaduan LGBT yang terjadi di Indonesia yang tiap tahun semakin bertambah. "Tahun 2022, semester awal sudah mencapai 202 kasus, artinya melonjak jauh sejak pengaduan pertama di tahun 2016, yaitu sebanyak 7 kasus," ujarnya.

Data itu, menurutnya, adalah data yang muncul ke permukaan dan terlaporkan. Sedangkan data yang tidak diadukan bisa lebih banyak.

Penetrasi LGBT, lanjut Mohammad Afnan, salah satunya dikenal dengan Child Grooming. "Yaitu the attempt by a person to build a relationship, trust, and emotional connection with a child so that they can manipulate, exploit, and abuse the child. Atau upaya seseorang untuk membangun hubungan, kepercayaan, dan hubungan emosional dengan seorang anak sehingga mereka dapat memanipulasi, mengeksploitasi, dan melecehkan anak tersebut," katanya.

Lebih lanjut dijelaskannya, upaya tersebut sebenarnya adalah “jebakan” kepada anak dengan power pelaku LGBT melalui fisik, emosional dan finansial, bahkan dengan media sosial yang sekarang mulai marak.

"Peran keluarga untuk mewaspadai LGBT itu bisa dilakukan dengan menghindari toxic parenting. Hal ini bertujuan agar attachment atau kelekatan emosioanal antara orang tua dengan anak bisa dibangun dalam parenting yang positif," paparnya.

Mohammad Afnan menaruh harapan pada positif parenting yang dapat memperkuat “imun” anak dari virus LGBT, bukan mensterilkan anak dari LGBT, karena bagaimanapun juga penyebaran LGBT di dunia sudah semakin masif dan terstruktur. "Bahkan even sebesar piala dunia di Qatar lebih dominan isu LGBT ketimbang turnamen sepak bola itu sendiri," ungkapnya.

Di akhir presentasinya, Mohammad Afnan menyampaikan rekomendasi bahwa tanggung jawab menjaga anak dari “virus” LGBT adalah tanggung jawab semua pihak, baik orang tua, masyarakat, sekolah dan pemerintah.

Penulis: Masykur Arif (LP2D)